: WIB    —   
indikator  I  

Loemangga pilih investasi di properti

Loemangga pilih investasi di properti

TAK ada kata terlambat untuk berinvestasi. Itulah yang tertanam dalam benak Loemongga Haoemasan ketika baru mulai berinvestasi pada tahun 2013 lalu.

Sebenarnya, perkenalan Presiden Direktur Asiana Group ini dengan dunia bisnis sudah lama. Sejak muda Loemongga telah berbisnis dan membangun Asiana Group.

Nah, setelah bisnisnya berjalan cukup baik, barulah ibu tiga putra ini melirik investasi. Pilihannya jatuh pada properti. "Karena bisnis saya bergerak di bidang properti, maka investasi yang saya pilih properti," jelasnya. Selain itu, properti tidak perlu dimonitor sesering investasi di saham ataupun reksadana.

Sayang, menantu Ginanjar Kartasasmita ini enggan merinci portofolio investasi properti miliknya. Yang jelas, aset properti Loemongga terdiri dari berbagai macam. Perempuan kelahiran Bandung, 6 September 1973, ini memiliki ruang perkantoran, apartemen, serta rumah tapak.

Menurutnya, investasi di tanah, rumah, ataupun apartemen memiliki keuntungan tersendiri. Tapi, investor mesti jeli demi memperoleh capital gain. "Kalau yield-nya sudah cukup, bisa dijual terus beli lagi," ungkap dia.

Kebanyakan properti milik Loemongga tersebar di wilayah Jabodetabek. Alasan memilih lokasi di Jakarta dan sekitarnya adalah, kebutuhan tempat tinggal di dekat tempat kerja masih tinggi. Namun, ia juga memiliki properti di Bali.

Bagi yang baru mau memulai investasi di properti, Loemongga punya tip: membeli apartemen di awal penawaran. Sebab, biasanya pengembang memberikan harga miring di masa tersebut. Jadi, keuntungan yang bisa masuk kantong tergolong besar. Tentu saja, pilih pengembang yang kredibel dan bertanggungjawab.

Keuntungan lain dari investasi di properti ialah, banyak skema yang ditawarkan dalam pembeliannya. "Bisa beli di awal dengan down payment (DP) lalu sisanya menggunakan kredit pemilikan rumah atau apartemen (KPR/KPA)," ujar Loemongga. Beberapa pengembang rajin menawarkan skema tertentu untuk pembelian properti.

Saat ini, Loemongga lebih sering membeli apartemen sebagai bentuk investasinya. Karena, skema pembayaran lebih murah lantaran masa konstruksinya panjang, bisa lebih dari tiga tahun. Berbeda dengan rumah tapak yang waktu konstruksinya lebih pendek.

Investor konvensional

Selain properti, Loemongga juga mempercayakan investasinya kepada deposito perbankan. Deposito jadi pilihan lantaran bisa diambil sewaktu-waktu. Tambah lagi, sekarang banyak bank yang menerapkan pengambilan dana tanpa penalti.

Mantan model ini merasa cukup beruntung karena bisa belajar berinvestasi dari pengalamannya bekerja di PricewaterhouseCoopers. Makanya, ia sudah cukup mengenal instrumen-instrumen investasi yang ada. Dari situ ia melihat, jika punya banyak waktu, boleh-boleh saja mencoba investasi di pasar saham.

Tapi, saat ini Loemongga lebih suka memiliki investasi yang berwujud. "Saya lebih konvensional, kalau ada wujudnya lebih tenang. Kalau saham, harus saya kelola sendiri, tidak percaya orang," kata lulusan Jurusan Keuangan Boston College, Amerika Serikat ini.

Loemongga juga tergolong investor yang beruntung lantaran belum pernah mengalami kerugian, sekalipun sektor properti sedang melambat. "Ada, kan, orang yang punya kebutuhan mendesak lalu menjual propertinya. Nah, harganya juga di situ pun tidak jatuh sekali. Itu pengalaman saya sendiri," ceritanya.

Meski portofolionya cukup banyak, Loemongga belum akan berhenti. Ia bakal terus menambah investasi di properti. "Kalau bujetnya ada, saya akan menambah terus, karena kalau disimpan di bank, kan tidak optimal," ungkap Loemongga.


Reporter Elisabet Lisa Listiani Putri
Editor Rizki Caturini

INVESTASI PROPERTI

Feedback   ↑ x