: WIB    —   
indikator  I  

Gerai lama ditutup, LPPF terus ekspansi

Gerai lama ditutup, LPPF terus ekspansi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kendati menutup sejumlah gerai, PT Matahari Department Store Tbk masih menambah gerai di daerah lain. Analis menilai hal tersebut membuktikan emiten berkode LPPF ini masih yakin dengan prospek bisnisnya .

Pada November ini, LPPF telah mengumumkan penutupan gerai Matahari Department Store (MDS) di Mal Taman Anggrek dan Lombok City Center. Alasannya cukup sederhana, yakni lantaran lokasi Taman Anggrek mengalami perubahan tata letak dari pihak pengelola mal. Sedangkan gerai di Lombok tutup karena kinerja penjualannya tidak memuaskan.

Penutupan ini menambah daftar gerai ritel yang harus tutup pintu selamanya. Asal tahu saja, pada September lalu LPPF juga telah menutup gerai MDS di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M.  Luas total gerai di Taman Anggrek, Pasaraya, Blok M  dan Lombok mencapai total 42.500 meter persegi (m2).

Namun di tengah sejumlah penutupan tersebut, pihak manajemen LPPF telah menyampaikan rencana untuk membuka tiga gerai pada kuartal IV-2017, dan 6-8 gerai lagi pada 2018. Kemungkinan, penambahan gerai bakal difokuskan ke luar Jawa. 

Emiten Grup Lippo ini antara lain akan membuka gerai di dua lokasi di Sumatra Selatan. "Dan satu lagi di Nevada Store, di Pakuwon Mall Surabaya, antara November dan Desember ini," ungkap analis Danareksa Sekuritas Adeline Solaiman kepada Kontan.co.id, Kamis (23/11).

Mengutip laporan keterbukaan Bursa Efek Indonesia Kamis (23/11), LPPF telah meresmikan gerai baru MDS di Citimall Baturaja, Sumatra Selatan. Dengan demikian, sampai saat ini LPPF telah memiliki 155 gerai, dengan luas ruang usaha lebih dari 1 juta m2. 

Seluruh gerai tersebut tersebar di 72 kota di seluruh Indonesia. Gerai terbaru di Baturaja menjadi gerai keenam yang dibuka di tahun 2017.Sedangkan pembukaan tiga gerai di akhir tahun ini, menurut Adeline akan memberikan tambahan area pertokoan LPPF seluas 14.000 m2. 

Mengenai lokasi dua tokonya yang terletak di area luar Jawa, analis Mirae Aset Sekuritas Christine Natasya melihat, hal tersebut terkait dengan pertumbuhan industri komoditas di area luar Jawa. "Misalnya komoditas batubara ada di Kalimantan dan Sumatra," jelas Christine.

Pelemahan konsumsi

Meskipun LPPF terus berekspansi, namun pelaku pasar harus awas terhadap kinerja emiten ini pada kuartal III-2017. Same store sales growth (SSSG) alias rerata pertumbuhan per toko di kuartal tiga lalu merosot 26% dari kuartal sebelumnya dan turun 2,7% year to date

Analis OCBC Sekuritas Ishfan Helmy dalam riset 7 November memaparkan, hal tersebut menunjukkan adanya pelemahan konsumsi domestik. Pendapatan LPPF pada sembilan bulan pertama tahun 2017 masih naik 0,34% menjadi Rp 7,55 triliun, dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. 

Namun laba bersih turun 6,54% menjadi Rp 1,5 triliun. "Meski konsumsi dalam negeri lemah, Matahari Department Store mempertahankan marjin laba kotor sebesar 36% selama sembilan bulan 2017," tulis Isfhan dalam risetnya. 

Hingga akhir 2017, Christine memperkirakan pendapatan LPPF mencapai Rp 10,12 triliun, dan mencapai Rp 10,99 triliun di 2018. Ia memberikan rekomendasi trading buy, dengan target harga Rp. 12.350 per saham. 

Di sisi lain, Adeline mengingatkan investor terkait  suntikan dana LPPF pada aset mataharimall.com. Aksi ini sempat membuat investor khawatir lantaran kurangnya transparansi keuangan dan operasional dari situs tersebut. Namun pihak manajemen emiten menyatakan suntikan dana pada Desember 2017 senilai Rp 212,5 miliar akan menjadi yang terakhir.

Dengan strategi ekspansi yang dijalankan LPPF, Adeline menaikkan target harga saham LPPF dari Rp 10.500 per saham menjadi Rp 12.500 per saham. Ia merekomendasikan buy saham ini. Sedangkan Ishfan menyarankan buy dengan target harga Rp 11.800 per saham.

Kamis (23/11), harga saham LPPF senilai Rp 11.600 atau naik 1,76% dari harga hari sebelumnya.


Reporter Tane Hadiyantono
Editor Wahyu Rahmawati

REKOMENDASI SAHAM

Feedback   ↑ x
Close [X]