: WIB    —   
indikator  I  

Emisi saham pendatang baru masih mini

Emisi saham pendatang baru masih mini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang tahun ini, setidaknya sudah ada 26 emiten baru yang melepas sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Sepekan terakhir ini, ada PT GMF AeroAsia Tbk dan PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk yang melepas saham perdananya.

BEI menargetkan tahun ini ada 35 emiten baru. Dalam pipeline IPO BEI, masih ada 10 emiten lagi yang berniat melepas sahamnya di bursa. Meski target perusahaan yang menggelar initial public offering (IPO) bisa tercapai, tapi nilai emisi penerbitan saham baru tahun ini terbilang kecil. Dari 26 emiten, nilai emisi IPO cuma Rp 5,54 triliun.

Padahal tahun lalu saja, nilai emisi IPO bisa mencapai Rp 12,11 triliun dari 16 perusahaan IPO.

Samsul Hidayat, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, mengatakan, ada 10 perusahaan berencana IPO di sisa tahun ini. Namun, nilainya juga tak besar. "Hanya dua calon emiten yang akan tercatat di papan utama dan delapan lainnya di papan pengembangan" ujar dia, Rabu (11/10).

Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Sekuritas mengatakan, kecilnya nilai IPO bukan karena kondisi pasar saham yang kurang kondusif. Tapi saat ini banyak perusahaan yang memilih pendanaan dari pasar obligasi. Apalagi, tren suku bunga tengah turun.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, bagi perusahaan besar yang punya akses luas ke perbankan, pendanaan dari IPO bukan jadi pilihan utama. Meski demikian, Hans menilai strategi BEI saat ini memang lebih fokus mendorong pertumbuhan jumlah emiten.

Bagi investor, masuknya perusahaan-perusahaan berskala kecil ke pasar saham justru bisa menguntungkan. Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital, juga bilang, nilai emisi IPO yang kecil justru mudah terserap pasar. "Terkadang, ini yang dicari investor," ujar dia.

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menjelaskan, biasanya calon emiten juga harus menyesuaikan valuasi sektoral dengan permintaan pasar, agar saham perdananya mudah terserap pasar. Kalau fundamental sektor jelek, harga akan rendah. Karena itulah, perusahaan harus mempertimbangkan timing tepat masuk bursa.

Hans yakin, tahun depan, minat IPO masih cukup tinggi. Beberapa anak usaha BUMN juga sudah siap melakukan IPO. Menurut Aditya, selain harus menjaring emiten sebanyak-banyaknya, BEI juga harus bisa menjaring perusahaan besar untuk IPO demi mendorong kapitalisasi pasar di bursa saham.

 


Reporter Elisabet Lisa Listiani Putri
Editor Dupla Kartini

INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO)

Feedback   ↑ x
Close [X]