kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Besok, rupiah diperkirakan kembali tertekan


Rabu, 07 Maret 2018 / 17:50 WIB
Besok, rupiah diperkirakan kembali tertekan
ILUSTRASI. Uang rupiah


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan sulit bertahan pada perdagangan Kamis (8/3). Kabar kemungkinan penundaan kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Moody's, dianggap menjadi sentimen negatif yang mengganjal penguatan mata uang Garuda.

“Mungkin rupiah akan melemah tipis,” ujar David Sumual, ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kepada Kontan.co.id.

Padahal, awalnya rencana peningkatan peringkat utang itu sempat membawa sentimen positif bagi nilai tukar rupiah. Namun, pasca pemerintah menetapkan harga batubara domestik untuk PLN, berhembus kabar penundaan pemberian rating tersebut.

Lukman Leong, analis PT Valbury Sekuritas Indonesia juga menilai, belum ada sentimen positif yang mampu menguatkan rupiah. Selain masih tertekan sentimen kenaikan suku bunga, menurutnya, hanya data inflasi saja yang mampu menggerakkan rupiah. “Kalau data cadev dan penundaan rating Moody's pengaruhnya sedikit,” imbuhnya.

Lukman menebak, Kamis (8/3), valuasi rupiah bisa berada di rentang Rp 13.750-Rp 13.805 per dollar AS. Sedangkan, David memperkirakan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 13.700-Rp 13.800 per dollar AS.

Mengutip Bloomberg, Rabu (7/3), kurs rupiah di pasar spot menguat 0,12% ke level Rp 13.760 per dollar AS. Namun, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, valuasinya masih melemah 0,09% ke level Rp 13.763 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×