: WIB    —   
indikator  I  

Asing keluar dari pasar saham

Asing keluar dari pasar saham

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan akhir-akhir ini. Investor asing pun sempat mencatatkan jual bersih (net sell) cukup besar di pasar saham. Cuma, dalam empat hari terakhir perdagangan, pemodal asing mulai melakukan pembelian bersih (net buy) saham senilai total Rp 438,19 miliar.

Toh begitu, tahun ini tekanan jual asing cukup tinggi. Tak pelak, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang tahun ini, investor asing mencatatkan net sell asing di pasar saham sebesar Rp 15,29 triliun.

Kepala Riset Batavia Prosperindo Sekuritas, Andy Ferdinand mengatakan, hengkangnya dana asing tersebut karena dua hal. Pertama, spekulasi Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, yang akan mencabut program stimulus (tapering). Faktor kedua, kondisi makro ekonomi Indonesia yang masih belum stabil.

Menurut Andy, sebelum kondisi ekonomi AS membaik, para fund manager asing cenderung memburu untung ke negara berkembang. Namun, sejak muncul spekulasi rencana tapering, mereka mengubah portofolio, sehingga banyak dana asing di negara berkembang ditarik kembali ke negara asalnya.

Terlebih, Andy menambahkan, banyak yang menganggap ekonomi Indonesia underweight. "Kita tengah menghadapi masalah defisit neraca perdagangan dan pelemahan rupiah," ujar dia. Meskipun pada Oktober 2013, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 42,4 juta, namun sepanjang tahun ini masih defisit.

Faktor lain yang membuat asing cenderung keluar dari pasar saham adalah tren rupiah yang terus melemah. Kenaikan harga saham tidak cukup membuat investor asing meraih untung. Sebab, asing juga harus menanggung selisih kurs. Alhasil, kata Andy, pelemahan nilai tukar rupiah ini membuat investor asing memilih hengkang dari pasar saham.

Tak sesuai ekspektasi

Analis First Asia Capital, David N Sutyanto menambahkan, keluarnya dana-dana asing itu juga lantaran realisasi indikator makro ekonomi Indonesia tahun ini yang lebih buruk dari target awal tahun. Ambil contoh, target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 6,5%, nyatanya di bawah 6%.

Selain itu, target inflasi yang semula hanya 5%, namun, sampai November 2013, inflasi tahunan sudah mencapai 8,37%. Begitu juga, dengan pergerakan kurs rupiah yang jauh dari target yakni Rp 9.700 per dollar AS.

Sampai akhir tahun, para analis memperkirakan, dana-dana asing masih enggan masuk ke pasar saham. Lagi-lagi, spekulasi soal penghentian stimulus AS akan menjadi faktor penentu arah investor asing menaruh dana investasinya.

Selain itu, kondisi domestik juga menjadi pertimbangan pemodal asing. "Masih banyak unsur ketidakpastian," ucap Andy. Karena itu, dia memperkirakan, asing masih akan keluar dari pasar saham.

Apalagi, imbuh Andy, Indonesia akan menghadapi pemilihan umum (pemilu) di 2014. Kondisi ini semakin membuat pasar saham kian volatil cenderung melemah. Sebab, pelaku pasar belum mengetahui arah kebijakan ekonomi ke depannya.

David menduga, net sell asing di pasar saham hingga akhir tahun ini akan berkisar Rp 15 triliun-Rp 16 triliun. Namun, dia yakin, jika pemilu tahun depan berjalan lancar, dana asing akan berhamburan masuk lagi ke pasar saham. Sampai akhir 2013, David memprediksikan, IHSG di level 4.550.

Sementara, di tahun depan, IHSG bisa menggapai posisi 5.050. 


Reporter Annisa Aninditya Wibawa
Editor Avanty Nurdiana

DANA ASING

Feedback   ↑ x
Close [X]