Reporter: Barratut Taqiyyah, Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
SINGAPURA. Pasca menembus level tertinggi dalam enam bulan terakhir, harga emas diramal akan semakin mahal di New York. Hal ini memungkinkan terjadi seiring spekulasi bahwa gerakan bersama bank sentral global akan mendongkrak tingkat permintaan emas sebagai lindung nilai kekayaan.
Seperti yang diketahui, pada hari ini (19/9), Bank of Japan menyatakan akan menggelontorkan 10 triliun yen atau US$ 127 miliar untuk membeli sejumlah aset termasuk di dalamnya surat utang pemerintah. Sementara, pada pekan lalu, the Federal Reserve mengumumkan program quantitative easing ketiga.
Pada bulan ini juga, Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi menjelaskan detil pelaksanaan rencana pembelian surat utang di negara-negara anggotanya. Sedangkan China baru saja menyetujui program anggaran infrastruktur.
"Harga emas terkerek oleh segala bentuk pelonggaran kebijakan yang dilakukan bank sentral global. Pada satu titik, akan terjadi aksi profit taking. Namun, tren harga emas masih akan naik," papar Bernard Sin, head of currency and metal trading MKS Finance SA di Jenewa.
Catatan saja, pada pukul 08.52 waktu New York, harga kontrak emas untuk pengantaran Desember naik 0,2% menjadi US$ 1.773,80 per troy ounce. Pada transaksi sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level US$ 1.781,80 per troy ounce, yang merupakan level tertinggi sejak 29 Februari lalu.
Sementara itu, harga kontrak emas untuk pengantaran cepat tak banyak mencatatkan perubahan di level US$ 1.771,70 per troy ounce di London.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












