: WIB    —   
indikator  I  

Tren penurunan harga saham emiten properti

Tren penurunan harga saham emiten properti

JAKARTA. Harga saham emiten sektor properti yang sempat melejit tinggi tahun ini, belakangan memudar. Tren harga saham emiten properti bergerak turun sejak Bank Indonesia (BI) mulai mengerek suku bunga acuan BI rate, awal Juni 2013 lalu.

Tercatat, sejak akhir Mei 2013, indeks saham sektor properti telah merosot hingga 37,75%. Kemarin, indeks saham sektor properti bertengger di 351,89. Penurunan indeks saham sektor properti itu lebih dalam ketimbang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Di periode sama, IHSG tercatat turun 13,22%.

Namun, secara year to date, rata-rata saham emiten properti masih memberi gain 7,76%. Cuma, ada sejumlah saham emiten properti yang return-nya minus secara year to date. Ambil contoh, saham BEST, APLN, SSIA, ASRI, LPKR (lihat tabel).

Salah satu biang keladi harga saham emiten properti bergerak turun adalah akibat kenaikan BI rate. Sejak Juni 2013, BI rate telah naik lima kali sampai bertengger di 7,5%.

Tak hanya itu, ekonomi yang melambat dan kebijakan loan to value (LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) kedua, membawa sentimen negatif ke pergerakan saham emiten properti.

Wilson Sofan, Kepala Riset Reliance Capital menyatakan, kenaikan BI rate dan kebijakan LTV KPR sangat memukul pasar properti. “Kita tahu hampir sebagian besar penduduk Indonesia membeli rumah dengan menggunakan KPR,” tutur dia.

Kenaikan suku bunga, menurut Wilson, menjadi pangkal permasalah penurunan permintaan rumah dengan kredit. Melvina Wildasari, analis Trimegah Securities mengamini. "Saham-saham emiten properti yang cenderung turun juga disebabkan dari depresiasi rupiah,” imbuh dia.

Melvina menilai, saham emiten properti saat ini kurang menarik lagi. “Sampai akhir tahun ini belum ada berita bagus yang membuat harga saham emiten properti bergerak positif,” ucap dia.

Dus, Melvina memperkirakan, kinerja rata-rata emiten properti pada tahun ini akan di bawah ekspektasi. Tahun depan, pergerakan harga saham emiten properti masih akan cenderung fluktuatif. “Harus dilihat kebijakan makro ekonomi dan suku bunga di tahun depan, seperti apa," tutur dia.

Kalau tren suku bunga masih naik di tahun depan, harga saham emiten sektor properti akan kembali merosot. Sebaliknya, kalau inflasi terkendali dan suku bunga turun, harga saham emiten properti akan mendapat angin.

Reza Nugraha, analis MNC Securities menambahkan, meski tertekan, kinerja keuangan rata-rata emiten properti sampai akhir tahun ini dan tahun depan, kemungkinan masih akan cukup baik. “Penjualan properti masih cukup bagus,” jelas dia.

Saham pilihan

Untuk jangka pendek, Reza menilai, kebijakan suku bunga BI memang memberi dampak pada buruk bagi pengembang. Namun, jika dilihat dari hasil penjualan pra pemasaran di tahun ini, marketing sales emiten properti masih tumbuh rata-rata 30%.  Dus, “Investor bisa selective buying terhadap saham properti,” tambah dia.

Saham properti pilihan Reza diantaranya, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sampai akhir tahun ini dan 2014. Sedangkan, saham pilihan Melvina adalah CTRA dan PT Metropolitan Land Tbk (MTLA).

Melvina mengatakan, dua saham tersebut cukup prospektif ketimbang saham emiten properti lainnya. Sebab, dua emiten itu menyasar segmen pasar menengah bawah dan end user. “Tapi, dengan syarat BI rate dan bunga KPR tidak naik lagi. Jika sebaliknya, justru bisa menghambat,” ujar dia.

Dalam jangka panjang, Reza menilai, saham sektor properti masih menarik. Karena itu, saham-saham emiten properti masih bisa menjadi pilihan investor dengan horizon investasi jangka panjang. 


Reporter Cindy Silviana Sukma
Editor Avanty Nurdiana

PROSPEK EMITEN

Feedback   ↑ x
Close [X]