kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.107
  • SUN97,12 0,58%
  • EMAS621.140 0,49%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Tower Bersama Infrastruktur akan menambah 1.000 menara baru

Kamis, 15 Februari 2018 / 08:24 WIB

Tower Bersama Infrastruktur akan menambah 1.000 menara baru

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) terus menancapkan taji bisnisnya di pelosok Indonesia. Tahun ini, emiten pengelola menara ini menargetkan bisa memperoleh 2.500 tenant baru.

Demi mendukung target tersebut, manajemen TBIG ingin membangun sekitar 1.000 menara hingga akhir 2018. Target ini lebih rendah dibanding realisasi pembangunan menara tahun lalu. Hingga akhir 2017, TBIG berhasil membangun 1.200 menara.

Tahun ini, TBIG menyiapkan investasi senilai Rp 1 triliun. "Perinciannya adalah, sebesar Rp 1 miliar untuk kebutuhan satu menara," ujar Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso, Rabu (14/4). Dia mengungkapkan, sebanyak 80% menara akan dibangun di luar Jawa.

Per akhir kuartal III-2017, TBIG sudah memiliki 13.500 menara. Dari jumlah itu, sebanyak 80% menara TBIG berada di luar Jawa. Sekitar 50% dari total menara TBIG disewa oleh PT Telkomsel, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Sementara itu, jumlah tenant hingga akhir tahun lalu mencapai 23.000 tenant.

Rencana akuisisi

Hingga kini, TBIG belum berniat menggelar ekspansi anorganik, berupa akuisisi perusahaan menara. Manajemen bilang, TBIG saat ini lebih fokus untuk melakukan ekspansi dengan memaksimalkan sumber daya internal. "Kami berfokus pada pertumbuhan organik terlebih dahulu," tutur Helmy.

Meski demikian, dia mengemukakan, jika ada peluang, TBIG akan senantiasa membuka ruang untuk melaksanakan akuisisi. TBIG sudah mempersiapkan pendanaan yang cukup untuk kebutuhan akuisisi. Hanya saja, Helmy tak mau menyebutkan berapa nilai pendanaan yang disiapkan.

Yang pasti, untuk kebutuhan pendanaan tersebut, TBIG kemungkinan akan menggunakan dana internal dan pinjaman perbankan. Terkait pendanaan eksternal tersebut, sejatinya TBIG masih memiliki dana pinjaman US$ 200 juta yang belum ditarik dari sindikasi 11 perbankan.

Pada tahun ini, TBIG mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) berkisar Rp 1 triliun–Rp 2 triliun. Kelak, dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan menara. Belanja modal ini diperoleh dari kas internal dan pinjaman bank.

Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere menyebut, TBIG merupakan emiten yang layak dipertimbangkan. Apalagi, margin laba usaha TBIG sebesar 80%. Selain itu, margin laba bersihnya cukup bagus, yakni sebesar 30%. "Bisnis TBIG sangat bagus. Selama perusahaan telekomunikasi masih memerlukan jasanya, pasti akan bagus sekali untuk TBIG," ungkap dia, Rabu (14/2).

Memang price earning ratio (PER) emiten ini sudah mencapai 22 kali. Tapi, menurut Nico, saham TBIG masih bisa dipertimbangkan karena memiliki pertumbuhan yang sangat cepat. Jadi tidak masalah apabila PER TBIG cukup tinggi.

Saat ini, Nico merekomendasikan buy saham TBIG dengan target Rp 7.000 per saham. Target tersebut lebih tinggi 19,66% dibandingkan harga saham TBIG pada penutupan kemarin di posisi Rp 5.850 per saham.


Reporter: Elisabet Lisa Listiani Putri
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

EMITEN

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel santika premiere Slipi
26 July 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.1913 || diagnostic_web = 0.4213

Close [X]
×