kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Surat utang jangka menengah Rp 110 M masuk pasar


Jumat, 28 Agustus 2015 / 07:20 WIB
Surat utang jangka menengah Rp 110 M masuk pasar


Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Pasar surat utang tetap ramai. Yang terbaru, PT Perkebunan Nusantara II menerbitkan surat utang jangka menengah alias medium term notes (MTN) senilai Rp 110 miliar. Surat utang yang didaftarkan dengan nama MTN VI PTPN II Tahun 2015 Seri A tersebut membagikan kupon tetap 11,75%.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, MTN bertenor dua tahun tersebut akan jatuh tempo pada 27 Agustus 2017. Administrator penerbitan instrumen tersebut adalah PT MNC Securities. Sedangkan PT Bank Bukopin Tbk menjadi agen pemantau.

Analis Millenium Capital Management Desmon Silitonga bilang, umumnya emiten telah memperoleh investor potensial terlebih dahulu sebelum MTN terbit. Sehingga, ia optimistis instrumen ini akan diserap oleh pasar. “Biasanya investor sudah ready sebelum MTN meluncur. Jumlah investor MTN umumnya di bawah 50,” tutur Desmon.

Kupon MTN VI PTPN II Tahun 2015 Seri A terbilang tinggi untuk surat utang bertenor dua tahun. Memang MTN tidak wajib menggunakan rating. Oleh karena itu, emiten menawarkan kupon menarik sebagai imbalan atas risiko yang ada.

Sedangkan PTPN merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sehingga peluang emiten berhasil membayar surat utang beserta kupon tepat waktu membesar. Dengan sifat MTN yang kurang likuid di pasar sekunder, Desmon memprediksi, investor akan menggenggam surat utang tersebut hingga jatuh tempo.

Menurutnya, peluncuran MTN di kuartal III-2015 cukup sepi dibandingkan kuartal sebelumnya. Sebab, emiten mengambil posisi wait and see sembari menunggu kepastian kapan Bank Sentral Amerika Serikat alias Federal Reserve (The Fed) akan mengerek suku bunga acuan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×