: WIB    —   
indikator  I  

Schroder: Indonesia masih perlu utang

Schroder: Indonesia masih perlu utang

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai negara berkembang yang masih membangun, Indonesia perlu pendanaan besar. Salah satunya adalah lewat utang. Belakangan, ada kekhawatiran bahwa utang negara terus melonjak.

Direktur Utama Schroder Indonesia Michael Tjandra Tjoajadi melihat pertumbuhan surat utang pada era kepemimpinan Joko Widodo yang terus bertambah merupakan hal yang normal. "Surat utang berkembang dengan bagus, pendalaman pasar juga terus terjadi terhadap obligasi pemerintah," kata Michale kepada KONTAN, Rabu (18/10).

Pertumbuhan surat utang tersebut, menurut Michael menjadi cermin produktivitas pemerintah. Seperti yang dilihat, saat ini pemerintahan Presiden Joko Widodo cukup getol mengejar berbagai pembangunan infrastruktur seperti pengembangan tol maupun pembangkit listrik. "Saya kira ekonomi kita masih membutuhkan utang, pak Jokowi tidak akan berhenti mengeluarkan surat utang," kata Michael.

Michael melanjutkan, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih lebih bagus dibandingkan negara lain. Menurut dia, rasio AS telah mencapai lebih dari 100% sedangkan Jepang telah meroket hingga 250%. "Kalau di Indonesia masih kecil, secara angka absolut terlihat besar, utang kita besar karena kekayaan dan ekonomi sudah membesar," jelasnya.

Sebagai informasi, mengutip Data Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan untuk posisi pada 13 Oktober, posisi surat utang negara saat ini berada di Rp 1.731 triliun naik 13,36% ytd. Sedangkan total surat berharga negara yang dapat diperdagangkan adalah Rp 2.063 triliun naik 16,37% ytd.

Total utang pemerintah hingga akhir Agustus 2017 mencapai Rp 3.825,79 triliun atau 28% dari produk domestik bruto (PDB). Hingga akhir tahun, pemerintah memproyeksi rasio utang terhadap PDB sebesar 28,9% dari PDB.

Tambah lagi, seiring pemahaman masyarakat mengenai surat utang, pertumbuhan reksadana dengan aset surat utang bakal semakin besar. Bahkan, Michael melihat ada potensi pada obligasi korporasi. "Kita berharap obligasi korporasi bisa lebih banyak," lanjut Michael.

Menurutnya, likuiditas dari seri obligasi tersebut menarik untuk dijadikan instrumen investasi. Sama juga dengan obligasi pemerintah yang sekarang sudah jauh lebih likuid.

Reksadana dengan aset obligasi sendiri menjadi salah satu produk favorit Schroder. Walau posisi pertama masih dipegang oleh tipe reksdana saham hingga hampir 55%, reksadana pendapatan tetap dan reksadana campuran masing-masing berkontribusi sebesar 21%.


Reporter Tane Hadiyantono
Editor Wahyu Rahmawati

INVESTASI REKSADANA

Feedback   ↑ x
Close [X]