INVESTASI
Berita
Reksadana terproteksi kurang berkembang

REKSADANA

Reksadana terproteksi kurang berkembang


Telah dibaca sebanyak 1800 kali
Reksadana terproteksi kurang berkembang

JAKARTA. Para pengamat meramal, prospek reksadana terproteksi bakal suram tahun depan. Sebab, tarif pajak kupon obligasi sebagai aset dasar (underlying asset) reksadana terproteksi akan naik dari 5% menjadi 15% di 2014.

Direktur Utama PT Infovesta Utama, Parto Kawito, menduga,insentif pajak obligasi yang akan berakhir di 2014 akan membuat para manajer investasi (MI) berpikir dua kali untuk meluncurkan reksadana jenis ini. Maklum, kenaikan pajak ini akan membuat return reksadana terproteksi semakin tidak menarik di mata investor.

Kinerja reksadana terproteksi juga relatif statis. Performa reksadana ini tergantung pada penempatan portofolio dan tidak berubah-ubah hingga masa jatuh tempo. Ini menyebabkan imbal hasil yang ditawarkan tidak semenarik reksadana konvensional.

"Kalaupun ada MI yang berniat menerbitkan reksadana ini, umumnya, itudalam jangka pendek, sekitar dua tahun," jelas Parto, Minggu (9/12).

Parto bilang, return reksadana terproteksi saat ini berkisar antara 5,75%-6%, dengan asumsi penempatan portofolio pada Obligasi Negara Indonesia (ORI). Sementara return reksadana terproteksi dengan aset dasar obligasi korporasi bisa mencapai 7%. Imbal hasil ini masih di bawah return reksadana pendapatan tetap. Imbal hasil reksadana pendapatan tetap sebesar 7,19% di November year-to-date.

Kendati demikian, Direktur Utama Danareksa Investment Management (DIM), Zulfa Hendri, menyatakan, DIM tetap akan menerbitkan sekitar lima hingga delapan reksadana terproteksi baru pada tahun depan. Ini untuk mengganti sejumlah reksadana terproteksi yang akan jatuh tempo pada tahun depan. "Nilai yang jatuh tempo itu sebesar Rp 500 miliar," Kata Zulfa.

DIM menargetkan bisa meraih dana kelolaan sekitar Rp 100 miliar-Rp 150 miliar dari masing-masing reksadana terproteksi anyar yang akan DIM terbitkan.

Sementara, Direktur MNC Asset Management, Suwito Haryatno, berpendapat, risiko pasar yang masih tinggi di tahun depan akan membuat reksadana ini masih memiliki pasar. Namun, Suwito mengaku masih akan fokus mengelola reksadana yang telah ada, ketimbang menerbitkan reksadana terproteksi.  

Editor: Asnil Bambani Amri
Telah dibaca sebanyak 1800 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..