: WIB    --   
indikator  I  

Rating S&P tak memberikan dampak besar

Rating S&P tak memberikan dampak besar

JAKARTA. Kenaikan peringkat utang Indonesia dari lembaga pemeringkatan Standards and Poors (S&P) telah lama dinanti pasar. Pengumumannya digadang-gadang akan dilaksanakan Selasa (16/5). Namun, nyatanya pasar harus lebih sabar menunggu. Pasalnya, hingga saat ini kepastian jadi atau tidaknya peringkat investment grade untuk Indonesia belum kunjung datang.

Kendati demikian, Kepala Divisi Operasional Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Ifan Mohamad Ihsan menilai pasar obligasi tetap berekspektasi positif akan realisasi kenaikan peringkat tersebut. Ia bilang, sekalipun belum ada realisasi, berbagai aspek di pasar obligasi sudah cukup menarik bagi para investor, terutama investor asing sebagai pemegang porsi kepemilikan paling besar di Surat Berharga Negara (SBN).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 10 Mei 2017, porsi kepemilikan asing di SBN sebesar 38,83%. Arus dana yang masuk (net inflow) asing ke SBN pun terus menunjukkan tren positif.

Secara year to date (ytd), net inflow asing yang masuk ke surat utang pemerintah sejumlah Rp 74,3 triliun. “Pengumumannya nanti hanya sebagai penegas dari ekspektasi pasar saja,” kata Ifan.

Atas berbagai pertimbangan, ia optimistis investment grade bagi Indonesia akan teralisasi pada tahun ini. Pertama, ulasan positif terkait kinerja beberapa indikator di pasar yang relatif baik. Kedua, terpenuhinya syarat-syarat yang ditentukan oleh S&P. “Pemerintah telah berupaya keras menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) dari S&P jadi semestinya sudah layak naik,” ungkapnya.

Mengutip dari situs resmi Bank Indonesia (BI), peningkatan rating oleh S&P dimungkinkan apabila momentum perbaikan tata kelola kelembagaan, khususnya kerangka kebijakan fiskal, dapat menghasilkan pengeluaran pemerintah yang berkualitas, penurunan defisit fiskal, moderasi utang pemerintah dan terjaganya kewajiban kontijensi fiskal. Selain itu, implementasi reformasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara utuh dan tepat waktu.

Ifan memprediksi, meskipun kenaikan peringkat yang sudah ditunggu-tunggu oleh pasar ini tidak terealisasi, tak akan memberikan dampak begitu besar. Alasannya, kondisi fundamental dalam negeri terbilang bagus sehingga dapat menjadi penyokong. “Jadi sebenarnya Indonesia ini sudah layak dapat kenaikan peringkat, seperti halnya diberikan oleh Fitch and Moodys,” cetusnya.

Selain itu, imbal hasil obligasi Indonesia masih menarik bagi investor asing, dibanding negara regional lainnya. Kemarin, yield obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun bertengger di level 7,29%.

Bagi Ifan, kondisi demikian mendorong investor asing semakin percaya diri untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia. “Pengumuman yang mungkin akan dilaksanakan 1 Juni 2017 mendatang, kecil kemungkinan kenaikan peringkat Indonesia tidak terealisasi,” tutup Ifan.


Reporter Olfi Fitri Hasanah
Editor Yudho Winarto

OBLIGASI

Feedback   ↑ x
Close [X]