: WIB    --   
indikator  I  

Poundsterling terus terseret kekuatan dollar AS

Poundsterling terus terseret kekuatan dollar AS

JAKARTA. Performa poundsterling kian loyo. Selain sajian data ekonomi yang masih bervariasi dan cenderung mengecewakan pasar, bayang Brexit terus membalut pergerakan mata uang Negeri Ratu Elizabeth ini.

Mengutip Bloomberg, Rabu (11/1) pukul 16.55 WIB pasangan GBP/USD tergerus 0,51% ke level 1,2115 dibanding hari sebelumnya.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis PT Central Capital Futures menjelaskan beban yang berasal dari sentimen Brexit adalah masalah utama yang terus menekan nilai tukar poundsterling. Terbaru, Perdana Menteri Inggris, Theresa May menyatakan ketidakpeduliannya mengenai pasar tunggal Eropa dan hanya fokus terhadap masalah perbatasan. Hal ini menimbulkan proses keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa masih akan panas.

“Tingginya tingkat kekhawatiran pasar akan Brexit pada Maret 2017 mendatang membuat poundsterling terpuruk apalagi ditambah sajian data ekonominya yang tidak juga baik,” ujar Wahyu.

Sebut saja data neraca perdagangan Inggris November 2016 mengalami kenaikan defisit dari 9,9 miliar poundsterling menjadi 12,2 miliar poundsterling sejalan dengan produksi konstruksi yang masih minus 0,2% atau di bawah proyeksi tumbuh 0,3%.

Keadaan menjadi kontras jika berkaca dengan USD yang terus disokong optimisme kenaikan suku bunga The Fed sepanjang tahun ini. Belum lagi performa data ekonomi AS juga cukup memuaskan pasar dan menjaga harapan prospek masa depan perekonomian AS.

“Pelemahan GBP/USD bisa lebih dalam lagi secara fundamental namun saat ini pelaku pasar berhati-hati jelang pidato pertama Donald Trump, Presiden AS Rabu (11/1) malam,” jelas Wahyu.

Pidato ini akan menentukan pergerakan GBP/USD Kamis (12/1). Jika terselip optimisme akan realisasi kebijakan yang dijanjikan Trump nanti dalam mendukung ekonomi AS maka USD akan semakin di atas angin. Apalagi ada beberapa pejabat The Fed yang dijadwalkan akan berpidato salah satunya Gubernur The Fed, Janet Yellen. Sampai saat ini pun diduga akan bernada hawkish.

“Tapi jika sebaliknya, bisa saja GBP/USD rebound terbatas mengingat peluang rebound ini cukup terbuka jika berkaca dari posisi yang sudah terpuruk signifikan,” tebak Wahyu.


Reporter Namira Daufina
Editor Barratut Taqiyyah

POUNDSTERLING

Feedback   ↑ x
Close [X]