kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

OJK: Jatah investor ritel lebih besar, makin bagus


Selasa, 05 Desember 2017 / 17:52 WIB
OJK: Jatah investor ritel lebih besar, makin bagus


Reporter: Dede Suprayitno | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengkaji aturan penjatahan investor untuk emiten yang melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Hal ini bertujuan agar emiten yang baru terdaftar nantinya, menjadi lebih likuid.

Aturan ini terkait dengan pembesaran porsi investor publik non-institusi (pooling allotment). Dengan porsi publik yang lebih besar diharapkan saham bisa aktif diperdagangkan.

"Saat ini masih dikaji lagi, untuk besaran jatah publik pada IPO," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen di BEI, Jakarta, Selasa (5/12).

Hoesen menyatakan, saat ini belum ada angka besaran penambahan porsi tersebut. Yang jelas, menurutnya, apabila porsi investor publik semakin besar, maka akan semakin bagus.

"Belum ada opsinya berapa persen. Sedang dikaji. Itu kan program 2018," imbuhnya.

Penambahan alokasi ini, lantaran karakter investor institusi merupakan long term investment, sehingga jual beli saham yang dilakukan tidak terjadi pada waktu singkat. Hal inilah yang membuat investasi menjadi tidak likuid.

Sedangkan, karakter investor ritel lebih aktif untuk ditransaksikan, sehingga membuat suatu saham menjadi lebih likuid.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×