: WIB    --   
indikator  I  

Meneropong potensi Dana Pratama Ekuitas

Meneropong potensi Dana Pratama Ekuitas

JAKARTA. Guna mendongrak imbal hasil (return), manajer investasi kerap mengalokasikan dana pada saham perusahaan yang dapat mengais untung dari pelonggaran kebijakan moneter.

Begitu pula strategi PT Pratama Capital Assets Management dalam meracik portofolio produk reksadana saham Dana Pratama Ekuitas.

Agus Sugianto, Direktur Pratama Capital Assets Management mengungkapkan, perusahaan memang cenderung overweight pada sektor saham yang sensitif dengan suku bunga. Sejak awal tahun 2016, Bank Indonesia (BI) sudah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali. Aksi teranyar, pada pertemuan September 2016, BI mengecilkan suku bunga BI 7 day reverse repo rate sebesar 25 bps menjadi 5%.

Walhasil, per September 2016, Dana Pratama Ekuitas telah mencetak return 16,8% (YtD), serupa dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga tumbuh 16,8% periode sama.

“Faktor yang menopang pertumbuhan kinerja Dana Pratama Ekuitas antara lain terus diturunkannya suku bunga acuan tahun ini,” terangnya.

Agus memaparkan, ada empat sektor saham yang menduduki bobot terbesar bagi Dana Pratama Ekuitas yakni sektor infrastruktur, perbankan, konsumer, serta properti.

Sektor infrastruktur memang disokong oleh program pemerintah dalam menggenjot pembangunan infrastruktur dalam negeri, penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya, serta prospek pertumbuhan laba emiten-emiten sektor infrastruktur dalam jangka menengah yang baik.

Lalu valuasi sektor perbankan memang menarik. “Non performing loan (NPL) cycle sudah mendekati puncak. Beberapa emiten juga mendapat manfaat dari program infrastruktur pemerintah,” tukasnya.

Beberapa emiten sektor konsumer juga mengalami ekspansi margin akibat koreksi harga komoditas dan stabilitas rupiah. Tingkat konsumsi masyarakat tahun 2016 juga membaik ketimbang kondisi tahun lalu.

Kemudian sektor properti memperoleh dampak positif dari tren penurunan suku bunga pinjaman, relaksasi beberapa regulasi semisal rasio Loan To Value (LTV) serta pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) bagi developer.

Oleh karena itu, Agus berharap, performa Dana Pratama Ekuitas hingga pengujung tahun 2016 mampu mengungguli IHSG. Strateginya, perusahaan tetap overweight pada sektor-sektor saham yang sensitif dengan suku bunga semisal perbankan dan properti.

“Kami berusaha untuk memberikan kinerja di atas indeks,” imbuhnya.

Terkendalinya inflasi dalam negeri memang membuka ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga acuannya.

Mayoritas dana memang diparkir pada efek saham. Mengacu fund fact sheet per Agustus 2016, sebanyak 82,66% aset Dana Pratama Ekuitas diparkir pada efek saham. Sisanya 17,34% berupa instrumen pasar uang.

Per 4 Oktober 2016, Dana Pratama Ekuitas telah diperdagangkan dengan nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB/UP) senilai Rp 9.827,82. reksadana saham ini telah meraup dana kelolaan Rp 133,01 miliar per Agustus 2016.

Nah, investor yang berminat mengoleksi reksadana tersebut dapat melakukan pembelian awal minimal Rp 500 ribu yang dikenakan biaya maksimal 0,5%. Adapula biaya penjualan maksimum 1% serta biaya pengalihan maksimal 0,25%.

Perusahaan akan mengutip biaya manajemen maksimal 2,5% per tahun. Lalu biaya kustodian maksimum 0,25% per tahun. Produk yang meluncur sejak 12 Februari 2004 tersebut menggunakan bank kustodian Deutsche Bank AG.

Senior Research Analyst pasardana.id Beben Feri Wibowo menjelaskan, kinerja Dana Pratama Ekuitas memang mirip dengan IHSG. Ini disebabkan alokasi portofolio pada saham-saham LQ-45. Lima efek besar dalam racikan produk ini di antaranya ASII, BBRI, BSDE, GGRM, serta INDF.

Beben meramal, sepanjang tahun 2016, Dana Pratama Ekuitas mampu meraih return 17% - 21%. Sementara rata-rata return reksadana saham tahun 2016 berpotensi menghimpun return 16% - 20%. Memang bursa saham domestik masih berpotensi melanjutkan kenaikan hingga pengujung tahun. Namun, pertumbuhannya sudah relatif terbatas.

Pasca Bank Sentral Amerika Serikat dan Bank Sentral Jepang mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan September 2016, ketidakpastian global mulai mereda. Namun, pelaku pasar masih mencermati pergerakan harga minyak dunia serta penyelenggaran pemilihan umum di Negeri Paman Sam.

“Sisi lain, realisasi pencapaian tax amnesty khususnya tahun ini akan menjadi pertimbangan bagi pelaku investasi yang dapat memengaruhi kondisi pasar saham,” paparnya.

 


Reporter Maggie Quesada Sukiwan
Editor Barratut Taqiyyah

REKSADANA

Feedback   ↑ x
Close [X]