: WIB    --   
indikator  I  

Memetik pendapatan berulang dari properti

Memetik pendapatan berulang dari properti

JAKARTA. Selain harganya yang selalu naik, properti bisa menjadi pohon investasi yang memberi keuntungan berulang. Tak heran, Direktur PT Asuransi Sinar Mas, Dumasi Marisina Magdalena Samosir menjadikan sektor properti sebagai investasi andalannya.

Perempuan kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara 21 November 1964 ini  menempatkan rumah toko (ruko) sebagai investasi favoritnya. Ia berkisah, ruko pertamanya bertempat di Kotabumi, Tangerang. Ruko itu dibeli bersama dengan saudara iparnya tahun 1995.

Kala itu, harganya cuma Rp 54 juta. Investasi tak selalu mulus. Ruko itu pernah menjadi korban penjarahan dan pembakaran saat kerusuhan tahun1998. Untungnya, Dumasi mengasuransikan ruko tersebut. Sampai saat ini, ruko tersebut masih ia sewakan.

Saat ini, Dumasi sudah memiliki sejumlah ruko di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Dari ruko-ruko itu, ia meraih pendapatan berulang. Dalam memilih ruko, ia menyarankan yang berlokasi di pinggir jalan. Dengan begitu, potensi adanya penyewa pun tinggi.

Karena harga ruko yang cepat melambung, para penyewanya kerap meminta tenor panjang hingga lima tahun. Namun ini ia membatasi maksimal tiga tahun.

Selain ruko, Dumasi juga memiliki satu apartemen di Thamrin Residence yang juga disewakan. Dumasi juga tak segan membeli lahan saat harganya masih murah tapi prospektif. Misalnya, Dumasi membeli tanah di Tangerang tahun 2010 seharga Rp 2,2 juta per meter persegi (m2). Dalam enam bulan, harganya sudah melonjak 100%, menjadi Rp 4,4 juta/m2. Saat ini, harganya mencapai Rp 8,8 juta/m2.

Kapok investasi saham

Kendati menyukai imbal hasil tinggi, Dumasi tak tertarik berinvestasi saham lagi. Ia mengaku pernah mengempit saham dan waran di tahun 1996-1997. Sayang, ia harus menelan pil pahit akibat krisis moneter yang mendera. Portofolio yang ia miliki tak lagi bernilai. “Saya sampai berpikir kertasnya ditempel di dinding saja, dipandangi tidak ada harganya,” kenang Dumasi.

Kini, ia tak lagi punya nyali berinvestasi saham. Untuk pengembangan dana di pasar modal, ia hanya memanfaatkan reksadana saham dan campuran. Sehingga, dana investasinya dikelola pihak yang memang ahli di bidang pasar modal.

Sejarah investasi Dumasi pun terbilang naik turun. Ia pernah memindahkan tabungan anaknya sejak kecil ke reksadana. Namun nilainya rontok hingga tersisa 10% saja. Gara-gara itu, Dumasi juga sempat trauma memiliki reksadana dalam waktu lama. Untungnya, uang tersebut akhirnya kembali melalui waran suatu bank yang melesat.

Dumasi yang memulai kariernya sejak tahun 1990 di Asuransi Sinar Mas juga menempatkan polis asuransi sebagai salah satu pilihan investasinya. Ia memiliki produk asuransi dari berbagai perusahaan untuk produk seumur hidup (whole life), dwiguna (endowment), hingga unit link.

Dalam berinvestasi, Dumasi memegang prinsip tak mau menyentuh 30% dari total pendapatannya. Ia menggunakannya untuk berinvestasi sebagai bentuk mengembangan aset dan mempersiapkan bekal di masa depan seperti pendidikan tiga orang anaknya.

Investasi juga bertujuan untuk menjamin biaya berwisata dan menikmati masa tua. Ia ingin, jika sudah pensiun nanti tetap dapat menikmati hidup lebih baik ketimbang saat bekerja.

Dumasi menularkan prinsip investasi ke sekelilingnya. Ia mengajari pekerjanya di rumah  berinvestasi. Supir yang bekerja untuknyapun menyicil rumah dengan bantuan pinjaman. Pembantu rumah tangga diajarkan membeli kambing di kampungnya. Sehingga, kata Dumasi, ketika mereka tak lagi bekerja, tetap bisa memiliki sesuatu yang dapat dikembangkan.


Reporter Annisa Aninditya Wibawa
Editor Sofyan Nur Hidayat

EKSEKUTIF

Feedback   ↑ x