: WIB    --   
indikator  I  

Memegang teguh tujuan investasi

Memegang teguh tujuan investasi

JAKARTA. Investasi sebaiknya memiliki tujuan khusus agar proses pembiakan dana bisa lebih fokus. Ketika sudah memiliki tujuan khusus, orang tidak akan mudah tergoda untuk mengutak-atik dana investasi sebelum tujuan tercapai. Prinsip itu dipegang betul oleh Alvin Pattisahusiwa, Director of Investment Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).

Alvin berkenalan dengan dunia investasi saat ia masih berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Tak tanggung-tanggung, investasi pertamanya langsung masuk ke saham. "Waktu itu tahun 1995, saya membeli saham TLKM, saat initial public offering (IPO)," papar pria kelahiran 31 Agustus 1973.

Awalnya Alvin mengaku sebatas ikut-ikutan teman kuliahnya. Kala itu investasi saham memang belum begitu dikenal masyarakat. Prosedur membeli saham juga cukup rumit. "Saya harus antri di bank untuk beli saham tersebut. Antrenya panjang karena masih manual," kisah Alvin.

Ia membeli saham TLKM di harga Rp 1.025 per saham. Niatnya membeli lima lot, tapi hanya kebagian jatah dua lot saham. Artinya, modal yang ia keluarkan saat itu sebesar Rp 1.025.000 (1 lot = 500 lembar saham).

Semula ia berniat menjual saham TLKM jika sudah meraih capital gain sekitar 20%. Namun ia baru menjual sahamnya setelah enam bulan memegang saham IPO.  Hasilnya, ia keuntungan 50% dari modal awal.

Tahun 1997, selepas kuliah, Alvin mulai bekerja di perusahaan manajer investasi, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen. Setelah terjun langsung ke industri pasar modal, Alvin justru tidak berinvestasi saham karena mengikuti aturan perusahaannya. "Saya tidak boleh investasi di saham karena takut ada conflict of interest," katanya.

Hingga kini, Alvin memilih tidak berinvestasi di saham lagi. Meskipun, perusahaannya yang sekarang memperbolehkan pegawainya berinvestasi saham.

Investasi reksadana

Setelah bekerja di Batavia Prosperindo, Alvin mulai mengenal reksadana. Ia langsung jatuh cinta pada instrumen ini. Menurutnya berinvestasi di reksadana cukup mudah dan tidak memerlukan biaya besar.

Bapak satu anak ini, langsung mengoleksi dua jenis reksadana sebagai diversifikasi portofolio, yakni reksadana saham dan reksadana pasar uang. Pembelian unit penyertaannya dilakukan secara berkala sebesar Rp 100.000 per bulan.

Pada 2002, ia menjual seluruh unit penyertaan dari dua produk ini, lantaran berpindah kerja ke BNP Paribas Investment Partners (BNPP-IP). Menurutnya, imbal hasil dari reksadana tersebut sepanjang lima tahun itu, hampir tiga kali lipat dari modal.

Dana investasinya lantas berpindah ke produk reksadana milik BNPP-IP. Tapi setahun kemudian, ia mencairkan seluruh unit penyertaan reksadana  yang dimiliki untuk membeli sebuah rumah yang kini ditinggali di daerah Bintaro, Tangerang. Hasil investasi reksadana dipergunakan sebagai uang muka pembelian rumah.

Investasi reksadana Alvin berlanjut pada 2004. Porsinya selalu sama, 70% di reksadana saham dan sisanya di pasar uang. Kali ini, hasil investasinya dipergunakan untuk membeli sebidang tanah di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten pada 2008. Singkat cerita, kini Alvin memiliki dua unit rumah dan dua bidang tanah yang dibeli dari hasil investasi reksadana.

Alvin menyiapkan investasi reksadananya untuk jangka waktu empat hingga lima tahun. Tujuannya selalu untuk membeli properti. "Jadi tidak pernah saya redeem di tengah jalan, berapapun return-nya," ungkap Alvin.

Saat ini, Alvin masih menggenggam tiga produk reksadana dengan tujuan untuk membiayai dana pendidikan anak dan dana pensiunnya kelak. 


Reporter Noor Muhammad Falih
Editor Sofyan Nur Hidayat

EKSEKUTIF

Feedback   ↑ x
Close [X]