: WIB    —   
indikator  I  

Kinerja di 2016 ciamik, peringkat BNI-AM naik

Kinerja di 2016 ciamik, peringkat BNI-AM naik

JAKARTA. Pertumbuhan dana kelolaan atawa asset under management (AUM) mencerminkan kinerja setiap manajer investasi dalam mengelola produk-produk reksadana. 

Menutup tahun 2016, BNI Asset Management (BNI-AM) berhasil mengelola AUM sebesar Rp 15,52 triliun atau meningkat 35% dari akhir tahun 2015, sesuai league table perusahaan manajer investasi yang dikeluarkan oleh Infovesta.

PT BNI Asset Management (BNI-AM) berambisi untuk meningkatkan performa bisnisnya di tahun 2017. Sebagai catatan, BNI-AM berhasil menduduki peringkat 7 (tujuh) di akhir tahun 2016.

Kini hanya dalam waktu 2 bulan di tahun 2017, BNI-AM berhasil naik ke peringkat ke-5 di dalam league table manajer investasi dengan total AUM Rp 16,98 triliun per 28 Februari 2017. 

Produk unggulan yang menjadi penyumbang terbesar kenaikan peringkat ini adalah berasal dari produk reksadana pendapatan tetap (BNI-AM Makara Investasi) dan reksadana pasar uang. 

Reksadana pendapatan tetap BNI-AM Makara Investasi membukukan year to date (YTD) return per 13 Maret 2017 sebesar 2,24% dan berada diatas benchmark Infovesta Corporate Bond Index.

Sementara itu, reksadana pasar uang Kemilau membukukan YTD return per 13 Maret 2017 sebesar 1.28% berhasil mengalahkan benchmark indeks reksadana pasar uang (Infovesta Utama).

Reita Farianti, Presiden Direktur BNI-AM mengatakan, kenaikan peringkat BNI-AM pada bulan Februari 2017 menjadi peringkat ke-5 league table manajer investasi, tidak lepas dari strategi perusahaan yang tercermin dari corporate roadmap 2014-2018 yang selalu mengedepankan peningkatan kuantitas dan kualitas. 

"Peningkatan Kuantitas terbukti dari peningkatan AUM tersebut sebesar 35% dari tahun 2015 sampai 2016, yaitu melalui strategi penjualan kepada Investor Institusi skala besar maupun penambahan agen penjual, baik bank maupun non-bank untuk Investor Ritel," kata Reita dalam keterangan tertulis yang diterima KONTAN, Selasa (14/3).

Peningkatan kualitas terbukti dari peningkatan pendapatan perusahaan yang diperoleh dari pengelolaan produk-produk bermarjin tinggi seperti reksadana saham, campuran maupun penyertaan terbatas. 

Pada akhir tahun 2016, dana kelolaan reksadana saham BNI-AM meningkat sebesar 172% dibanding tahun sebelumnya. BNI-AM juga memperoleh peningkatan pendapatan manajer investasi yang cukup signifikan, yaitu sebesar 125% dari tahun 2015 ke 2016 dan mengalami pertumbuhan number of account (NOA). 

Sehingga, secara keseluruhan total pertumbuhan klien BNI-AM di akhir tahun 2016 sebesar 100%”. 
Kunci kesuksesan lainnya, yaitu BNI-AM meningkatkan kerja sama sinergi antargrup Bank Negara Indonesia (BNI). 

Potensi-potensi bisnis yang muncul dari hasil sinergi ini berhasil mendorong pertumbuhan BNI-AM, yang terlihat dari perkembangan dana kelolaan dari Grup BNI sebesar 46% di akhir Desember 2016. Sehingga, kontribusi total dana kelolaan yang berasal dari grup BNI di BNI-AM, meningkat dari 30% di tahun 2015 menjadi 34% di tahun 2016. 

Sinergi yang semakin kuat dengan Grup BNI juga mendorong berbagai pencapaian yang telah diraih oleh BNI-AM. Dalam jangka panjang ke depannya, melalui sinergi yang makin kokoh BNI-AM mengharapkan 80% bisnis akan berasal dari sinergi Grup BNI.

Strategi BNI-AM ke depan adalah Go Digital melalui sistem online platform, sehingga reksadana BNI-AM dapat diakses oleh seluruh nasabah BNI dari internet banking maupun mobile banking BNI. 

Hal ini sejalan dengan peningkatan kualitas di berbagai lini bisnis dan operasional BNI-AM secara cepat dan tepat dan memaksimalkan sinergi dengan Bank BNI yang mengedepankan digital banking.

Dari sisi strategi investasi, Direktur Investasi dan Teknologi BNI Asset Management, Isbono M.I.Putro mengatakan, tahun 2017 ini risiko tinggi masih membayangi perekonomian dunia.

"Risiko politik di Eropa dan risiko kebijakan ekonomi Amerika akan menjadi faktor utama volatilitas pasar di tahun 2017. Oleh sebab itu, alokasi portofolio inti akan diarahkan ke sektor domestik guna meminimalisasi efek global seperti sektor konsumer dan infrastruktur," kata Isbono.


Reporter Dikky Setiawan
Editor Dikky Setiawan

MANAJER INVESTASI

Feedback   ↑ x
Close [X]