: WIB    —   
indikator  I  

Ivan Jaya: Investasi agresif di reksadana saham

Ivan Jaya: Investasi agresif di reksadana saham

KONTAN.CO.ID - Jeli dalam mengatur strategi investasi. Kalimat tersebut bisa menggambarkan sosok Ivan Jaya, yang kini menduduki jabatan Executive Vice President Head of Wealth Management Commonwealth Bank Indonesia. Dengan riset yang memadai sebelum berinvestasi, ia bisa membiakkan duit secara optimal dan terhindar dari jebakan investasi bodong.

Di Commonwealth, Ivan turut mengantar perusahaannya meraih penghargaan sebagai Wealth Management of the Year 2017 dari The Asian Banker. Sebelum menduduki jabatan saat ini, Ivan sudah memegang posisi yang sama di Citibank Indonesia. Maka kemampuannya dalam mengatur strategi investasi tak perlu diragukan lagi.

Pemilik gelar master di bidang Business Administration Technology dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini pertama kali berkenalan dengan instrumen investasi kala memasuki karier perbankan di American Express. Kala itu, ia menapaki posisi Card and Wealth Management Business Finance Manager.

Melalui posisi tersebut, ia menyadari pentingnya menabung dengan instrumen keuangan yang tepat. Hal tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang.

Strategi tambahan Ivan dalam berinvestasi adalah mengatur alur keuangan dengan porsi pembagian 50:30:20. Maksudnya adalah menggunakan 50% uang yang diterima untuk kebutuhan sehari-hari, kemudian 30% untuk berbelanja dan bersenang-senang, dan sisi 20% dialokasikan untuk tabungan dan investasi. "Jadi bukan habiskan uang dulu, baru kemudian ditabung," jelas Ivan.

Strategi tersebut memang jamak disarankan dalam dunia finansial. Namun disiplin menjaga fokus untuk kebutuhan masa depan itu yang kadang tidak mudah.

Mengenali diri sendiri

Strategi terpenting dalam berinvestasi, menurutnya, adalah mencari tahu tujuan investasi, keadaan cash flow dan profil pribadi. Jadi seorang investor harus menyadari peta kepribadian dirinya. "Saya risk taker yang agresif, saya berani mengambil aset high risk," jelas Ivan saat ditemui KONTAN.

Dus, sebagai individu yang berani mengambil risiko, Ivan menempatkan mayoritas investasinya di produk reksadana saham sebesar 60%. Selain itu ia menginvestasikan 30% dananya dalam bentuk emas, obligasi dan reksadana pendapatan tetap, sedangkan sisa 10% dalam bentuk tabungan deposito.

Ia memilih reksadana karena tidak perlu repot dan harus memantau dana investasinya setiap hari. Maklum, reksadana sudah dikelola oleh manajer investasi. Dus, ia tinggal menikmati hasilnya. Menurut Ivan, investasi di pasar modal masih menarik, didukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, keberhasilan tax amnesty dan kenaikan peringkat investment grade dari Standard & Poor's.

Ivan menyadari tak semua investor agresif seperti dirinya. Kepada investor yang konservatif dan ingin mencari aman, Ivan menyarankan investasi di pasar uang, sukuk tabungan atau obligasi ritel yang relatif aman.

Ivan menyarankan, seseorang harus memiliki portofolio di pasar modal, lantaran dalam kondisi dan waktu kapanpun, akan selalu ada cadangan uang. "Kita tidak harus menjual aset, selalu ada cadangan," jelasnya.

Namun seorang investor harus jeli dan berhati-hati saat menerima tawaran investasi tertentu dengan imbal hasil yang sangat menggiurkan. Tentu saja, tujuannya agar kita tidak terjebak dalam investasi bodong.

Sebagai Head of Wealth Management, Ivan memang memiliki perhatian khusus pada isu investasi bodong. "Masyarakat Indonesia kalau sudah dekat, apalagi dengan relasi, akan mudah percaya," jelas dia. Tapi dalam berinvestasi, kita harus tetap teliti dan mempertanyakan aset dasar dari produk investasi tersebut.

Ivan sendiri selalu melakukan riset sebelum masuk atau menyarankan instrumen investasi kepada orang lain. Ia hanya akan masuk ke produk investasi dengan aset dasar yang jelas dan berada di bawah naungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga dapat memberi jaminan keamanan.

 


Reporter Tane Hadiyantono
Editor Dupla Kartini

INVESTASI

Feedback   ↑ x
Close [X]