: WIB    --   
indikator  I  

Investor tidak perlu cemas respon naiknya Fed rate

Investor tidak perlu cemas respon naiknya Fed rate

JAKARTA. Sepanjang perdagangan kemarin, sejak awal hingga penutupan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di zona merah. Tercatat, semua sektor melemah dan IHSG terkoreksi 0,29% ke level 5.776,283.

Meski melemahnya IHSG terjadi pasca The Fed menaikkan tingkat suku bunganya, para analis menilai, pengaruh naiknya Fed Rate tidak terlalu berdampak signifikan pada melajunya IHSG kemarin.

Riska Afriani, Analis OSO Sekuritas mengatakan, sejauh nilai tukar rupiah masih stabil, kondisi emerging market tidak akan terlalu banyak berpengaruh. Mengutip bloomberg, Kamis (15/6), posisi nilai tukar rupiah hanya melemah 0,07% ke level Rp 13.286.

"Sebenarnya, naik Fed Rate itu bisa menimbulkan efek terhadap beberapa sektor saham, jika nilai tukar rupiah terdepresiasi dalam," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (16/6).

Dia mencontohkan seperti halnya di tahun 2015, ketika suku bunga acuan naik, bunga kredit pun ikut naik, sehingga pertumbuhan kredit di sektor perbankan turun. Bahkan, sektor properti juga ikut melambat seiring turunnya daya beli masyarakat. "Sektor manufaktur juga terkena imbasnya, khususnya yang memiliki bahan baku impor," imbuhnya.

Setali tiga uang, Reza Priyambada, Senior Analyst Binaartha Parama Sekuritas bilang, apabila kenaikan Fed Rate memberikan sinyal negatif terhadap rupiah, maka hampir semua sektor saham terkena imbas. Kendati begitu, lanjutnya, pelaku pasar tidak perlu terlalu khawatir merespons kenaikan Fed Rate.

"Semua itu bergantung mindset. Selama ini beredar mindset kalau terjadi perubahan suku bunga di AS, maka dana - dana di emerging market akan balik ke AS sehingga emerging market akan melemah dan ekonomi akan turun," imbuhnya.

Menurutnya, meski terjadi capital outflow, dana asing tetap akan kembali ke emerging market, untuk menunjang pembangunan yang terjadi di Amerika Serikat. "AS juga tidak mungkin akan berdiri sendiri, mereka juga punya kepentingan untuk memasarkan barang-barangnya," ungkapnya.

Riska Afriani memprediksi, pergerakan pasar saham masih akan agresif menyusul rencana kenaikan suku bunga The Fed selanjutnya. Meski pergerakan indeks menurutnya akan terbatas, dia menduga indeks bisa menyentuh di atas level 5.600 sampai akhir tahun nanti. 


Reporter Klaudia Molasiarani
Editor Yudho Winarto

IHSG

Feedback   ↑ x
Close [X]