: WIB    —   
indikator  I  

Investasi bisa bermula dari hobi

Investasi bisa bermula dari hobi

JAKARTA. Budi Herawan sudah lama malang melintang di dunia asuransi, tepatnya sejak tahun 1986.

Dalam berinvestasi, pria yang kini menjabat sebagai Direktur Teknik Asuransi Purna Artanugraha (Aspan) ini, jeli dalam melihat peluang menggaet fulus.

Lihat saja, Budi menjadikan hobinya mengoleksi mobil klasik untuk membiakkan modal.

Merek mobil yang dipilih adalah Mercedes-Benz dan Volvo keluaran tahun 1970 hingga 1990-an.

Jenisnya beragam, dari sedan hingga Jeep SUV.

"Gain lumayan,  karena barang antik atau klasik ada nilainya," ucap Budi.

Cuan mobil klasik menggiurkan. Budi bisa membeli mobil seharga Rp 60 juta.

Lalu ia memperbaiki dengan merogoh kocek sekitar Rp 100 juta.

Mobil tua  disulap menjadi kinclong dan laku dijual lagi dengan harga Rp 300 juta.

Menurut Budi,  Mercy dan Volvo adalah mobil berkelas pada zamannya hingga saat ini.

Malah ada beberapa jenis yang merupakan mobil andalan eksekutif.

Wajar, jika peminat mobil ini cukup banyak. Tapi butuh usaha ekstra untuk mendapatkan mobil klasik.

Tak cuma mobil, sepeda motor klasik juga menguntungkan. Merek pilihannya Vespa dan Honda.

Budi mengaku bisa membeli sepeda motor seharga Rp 500.000 dan menjual lagi seharga Rp 10 juta.

Meski sebelumnya ia harus merogoh kocek untuk biaya perbaikan.

Ia juga rela mencari onderdil original hingga ke pasar loak.

Saat ini, pria yang pernah menjadi Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini sedang membangun dua motor Honda tahun 1970-an.

Ia membeli seharga Rp 800.000 per unit.

Estimasinya, jika sudah diperbaiki, harga jual mencapai Rp 10 juta hingga Rp 12 juta.

Pemain properti

Budi juga lihai dalam berinvestasi properti. Baginya, investasi properti harus bertangan dingin.

Untuk properti, produk pilihan Budi adalah apartemen.

Biasanya, ia membeli apartemen yang belum dibangun dan menjual  3 bulan-6 bulan setelah konstruksi rampung.

Budi berkisah, ia pernah membeli Apartemen Mediterania sekitar Rp 100 juta di awal tahun 2000-an.

Lalu ia menjual dengan harga Rp 250 juta.

Rusunami  juga ia lirik.

Dulu, Kalibata City hanya seharga Rp 100 juta dan ia bisa menjual Rp 300 juta.

Untuk apartemen, Budi memilih apartemen kelas menengah, karena permintaan tinggi. Kalaupun tidak terjual, apartemen bisa disewakan.

"Break even point bisa dalam 3 tahun–4 tahun," katanya.

Namun, Budi juga mempunyai apartemen kelas atas.

Untuk memilih apartemen premium, menurutnya, investor harus paham lokasi.

Contohnya, Budi membeli Apartemen Park Royal di lokasi yang sangat strategis seharga Rp 400 juta.

Kini, nilainya sudah mencapai Rp 4,5 miliar.

Saat ini, Budi tengah mengincar pembangunan rumah petak untuk disewakan.

Ia ingin melebarkan ekspansi propertinya ke Yogyakarta.

Target balik modal atau break even point setelah 10 tahun.

Namun Budi belum menemukan lokasi tanah yang tepat untuk merealisasikan keinginannya.

Sebagai seorang investor,  Budi cenderung konvensional.

Wajar jika ia senang menaruh dananya di deposito.

"Itu yang paling aman dan sewaktu-waktu bisa dilikuidkan," tutur Budi.

Ia mengaku kapok bermain saham karena pernah rugi cukup besar.

Namun, tak ragu masuk ke Surat Utang Negara (SUN) atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI).

Budi juga investasi penyertaan modal di perusahaan konsultan dan broker.

Maklum, ia pernah bekerja sebagai konsultan perbankan sebelum masuk bisnis asuransi.

Dalam menanamkan modalnya, pria kelahiran tahun 1961 ini selalu berorientasi jangka panjang.

"Untuk bekal pensiun," tandas Budi.                  


Reporter Annisa Aninditya Wibawa
Editor Adi Wikanto

STRATEGI INVESTASI

Feedback   ↑ x
Close [X]