: WIB    —   
indikator  I  

Intan Syah: Pengalaman penting dalam investasi

Intan Syah: Pengalaman penting dalam investasi

SAHAM jelas bukan dunia baru buat Intan Syah Ichsan. Chief Operating and Marketing Officer PT Samuel Aset Manajemen ini menyandang gelar master International Portofolio Management dari University of Exeter, Inggris.

Setelah menyelesaikan pendidikan S2, Ichsan kembali ke Indonesia. Lulusan Studi Pembangunan Ekonomi Universitas Indonesia (UI) lalu memulai karier sebagai analis saham di sebuah perusahaan sekuritas. Dia beralasan:belum banyak perusahaan asset management di Indonesia ketika itu.

Tapi, "Saat menjadi analis, saya baru mulai investasi di saham," kata Ichsan Padahal, pengetahuan soal investasi saham sudah dia miliki sejak kuliah di UI. Maklum, dia bilang, pengetahuan saja enggak cukup buat modal berinvestasi saham.

Cuma, saat jadi analis saham, Ichsan tidak boleh membeli saham yang ia tangani. Akhirnya, dia beli saham lain tapi tidak melakukan diversifikasi. Akibatnya cukup fatal. Karena keuntungan yang sempat dia dapat akhirnya hilang. "Saya ternyata tidak memiliki diversifikasi karena hanya membeli satu atau dua saham," ujarnya.

Tak heran, selama berinvestasi saham sepanjang 1992 hingga 1997, tidak ada gain signifikan yang ia peroleh. Ini memberi pelajaran buatnya, bahwa investasi tidak hanya membutuhkan pengetahuan tapi juga pengalaman.

Ayah tiga anak ini bahkan pernah rugi 40% dalam waktu dua jam. Meski kerugian tidak dia realisasikan, namun butuh waktu cukup lama untuk mendapat keuntungan lagi.

Akhirnya, baru pada 1998, Ichan mulai mendiversifikasi sahamnya. Ia memilih sekitar 10 saham dari sektor yang berbeda. Tapi ternyata, lagi-lagi keuntungan yang dia kantongi tipis.

Hanya, lama kelamaan Ichsan lelah juga mengurus portofolio sahamnya. "Saya jadi tidak bisa menikmati hidup karena setiap hari harus memperhatikan sahamnya," ucapnya.

Serahkan pada ahlinya

Itu sebabnya, seiring bergabung dengan Samuel Aset Manajemen, Ichsan menambah portofolio dengan masuk ke reksadana. Dia memilih reksadana  saham dan campuran. Tapi, porsi terbesar adalah reksadana campuran.

Pria 50 tahun ini pun lebih mempercayakan pengelolaan investasi pada manajer investasi. Berdasarkan pengalamannya, investasi tidak bisa dilakukan secara sambilan. Butuh tenaga, waktu, dan pikiran untuk mengelola investasi. Oleh karena itu, sebaiknya pengelolaan investasi diserahkan ke ahlinya.

Ichsan mencontohkan pengalamannya mengelola sendiri investasi saham. "Sebagai seorang analis saham saja, saya bisa kebakar jika akhirnya tidak untung. Apalagi, untuk orang yang tidak duduk di depan screen (layar) dan melihat pergerakan saham setiap hari," ungkap dia.

Dan, Ichsan mengaku sebagai investor moderat lantaran memiliki pengetahuan cukup tentang risiko investasi. "Pada usia saya, saya juga tahu risiko yang saya ambil tidak boleh besar," imbuhnya. Makanya, investor tidak bisa meletakkan semua pendapatan di instrumen investasi, perlu juga ditaruh di tabungan.

Tak lupa, Ichsan juga mengajarkan investasi kepada anak-anaknya. Meski anak-anaknya tidak menempuh pendidikan di bidang ekonomi, ia mendidik mereka untuk membeli reksadana. Alasannya, reksadana ialah bagian dari investasi yang bukan hanya dimiliki oleh orang berlatar belakang ekonomi.

Selain reksadana, Ichsan juga memiliki investasi di properti. Properti bisa jadi pilihan investasi yang sangat menguntungkan jika punya modal lebih dan bersedia menunggu lama bahkan hingga puluhan tahun. Jika dananya tidak cukup, bisa memilih reksadana. Namun, "Saya tidak menyarankan saham karena pengalaman saya," tegas Ichsan. 


Reporter Wuwun Nafsiah
Editor Dupla KS

PORTOFOLIO INVESTASI

Feedback   ↑ x
Close [X]