: WIB    —   
indikator  I  

Hari Mantoro: Agresif dahulu, konservatif kemudian

Hari Mantoro: Agresif dahulu, konservatif kemudian

JAKARTA. Berpengalaman di bidang keuangan lebih dari 36 tahun, menyebabkan Hari Mantoro, Presiden Direktur PT HSBC Securities Indonesia cukup selektif memilih instrumen investasi. Di usianya yang sudah berkepala enam, Hari cenderung konservatif dan berhati-hati menempatkan portofolio investasi.

Saat muda, pria kelahiran 11 Juni 1953 ini, mengaku cukup agresif dalam berinvestasi. Dia berani menempatkan sebagian besar penghasilannya di instrumen saham. "Saya berani mencoba dan belajar hal-hal baru, termasuk belajar berinvestasi di saham," dia mengenang.

Saat itu di akhir tahun 1970-an, Hari mencoba trading sendiri. Kebetulan, pasar modal Indonesia mulai booming meski emiten di bursa efek belum banyak. Pengalaman untung rugi dalam bertransaksi saham sudah biasa dialaminya.

Pria kelahiran Yogyakarta ini sering mencoba peruntungan dengan melirik saham perdana melalui initial public offering. Dia pernah membeli saham perdana PT United Tractors Tbk (UNTR) di harga Rp 7.250 per saham. Saat itu, kondisi pasar modal bagus, sehingga harga UNTR melambung tinggi pada debut perdana.

Hari merasakan keuntungan berkali lipat di saham itu. Dari disiplin bermain saham, Hari bisa menabung untuk membeli mobil pribadi. "Tapi dikala rugi, saya bisa kehilangan uang seharga mobil itu," selorohnya.

Beberapa kali, Hari turut merasakan kerugian ketika pasar modal Indonesia anjlok terkena krisis ekonomi. Sejak itu, pola investasinya berubah menjadi moderat. Dia mulai mengoleksi saham berkapitalisasi pasar besar dengan fundamental baik. Pola investasinya mengarah ke jangka panjang. Portofolionya semakin konservatif terutama setelah dia berkecimpung lebih dalam di bidang keuangan.

Hari sendiri memulai karier pada pada tahun 1976 di American Express Bank, Jakarta. Setelah sembilan tahun, dia bergabung di PT Bank Paribas Indonesia. Kemudian ke HSBC.

Dari berbagai perusahaan itu, dia belajar berbagai bidang termasuk asersi faktor risiko dan kredit komersial. "Pengalaman di bidang kredit membuat saya menjadi investor yang lebih berhati-hati, bukan risk taker. Karena sektor kredit itu mengutamakan prinsip prudent," imbuhnya.

Karena sibuk bekerja, Hari tak punya cukup waktu melanjutkan trading saham secara pribadi. Dia mengalihkan portofolio ke reksadana. Produk yang dipilih adalah reksadana campuran, yang terdiri dari saham, obligasi dan pasar uang. Risikonya lebih tersebar. Apalagi, dia cukup optimistis pada prospek pasar obligasi. Meski return reksadana campuran lebih kecil dibandingkan reksadana saham, Hari memilih menyebar risiko portofolio.

Selain disiplin berinvestasi sejak muda, Hari tak pernah menempatkan investasi dalam satu keranjang. Diversifikasi produk menjadi satu hal dasar yang wajib. Menyebar risiko sudah ia lakukan sejak pertama berinvestasi. Sebagian investasinya ditempatkan di beberapa produk seperti properti, emas dan deposito.

Aset properti milik Hari terbagi dalam bentuk rumah dan tanah. Dia mulai membeli properti sejak muda. Beberapa asetnya ada yang disewakan. Properti adalah investasi jangka panjang yang akan dipakai untuk kebutuhan pensiun kelak.

Dalam bentuk yang lebih likuid, Hari juga gemar berinvestasi di emas. Baginya, keuntungan yang didapatkan dari investasi emas lumayan tinggi dan mudah diperjualbelikan. Untuk kebutuhan lebih pendek, Hari memilih deposito.

Prinsip disiplin dalam berinvestasi juga terus ditularkan kepada ketiga putranya. Baginya, berinvestasi, berapapun besarnya, harus mulai selagi muda. Alhasil, masa pensiun bisa lebih dinikmati dengan nyaman dan bahagia.


Reporter Narita Indrastiti
Editor Sandy Baskoro

INVESTASI PARA EKSEKUTIF

Feedback   ↑ x
Close [X]