: WIB    --   
indikator  I  

Hadi Wenas: Berani ambil risiko di bisnis startup

Hadi Wenas: Berani ambil risiko di bisnis startup

JAKARTA. Sejak mendapat pekerjaan pertamanya sebagai Applications Engineer di kantor pusat Oracle, Amerika Serikat (AS), Hadi Wenas sudah mulai menyisihkan pendapatannya untuk berinvestasi. Perjalanan investasi Hadi yang kini menjabat CEO MatahariMall.com dimulai dengan masuk ke  instrumen saham.

Kala itu, awal tahun 2000-an, pasar modal AS tengah diramaikan saham-saham teknologi. Ia pun tertarik untuk mengoleksi sebagian saham teknologi di bursa AS. Namun, belum setahun merasakan keuntungan dari kenaikan  harga saham, portofolio Hadi anjlok.

Apalagi, saat itu Hadi memilih saham dengan tidak melihat kondisi fundamental. Ia mengaku hanya ikut-ikutan teman dan tidak mengecek bisnis perusahaan. "Saya cuma mencari perusahaan teknologi yang namanya keren dan harganya pernah naik. Sempat merasakan keuntungan, tetapi akhirnya malah rugi," kenang Hadi sambil tertawa.

Kejadian itu membuat Hadi sempat absen bermain saham. Selanjutnya, pada tahun 2005, ia pulang ke Tanah Air dan menjadi konsultan manajemen di McKinsey Consulting Company di Indonesia.

Dua tahun kemudian, Hadi kembali disiplin berinvestasi dengan menaruh aset di reksadana. Namun dalam mengelola asetnya, Hadi kini dibantu oleh relationship manager (RM) bank. Maklum saja, pekerjaan bikin sibuk, jadi diatak ada waktu untuk mencermati kondisi pasar setiap hari. "Saya mendapat edukasi dari RM selama setahun dan mulai investasi lagi berdasarkan kepercayaan," ujarnya. Dalam hal ini, portofolio asetnya terdiversifikasi di beberapa instrumen seperti valuta asing (forex) dan obligasi ritel negara (ORI).

Hadi merupakan seorang  investor yang cukup agresif. Untuk investasi jangka menengah, ia menargetkan return yang lebih tinggi dari inflasi, antara 15% sampai 20% per tahun.

Pada tahun 2010, ia mulai menjajal investasi properti. Investasi propertinya berupa apartemen, rumah tapak dan tanah. Nah perlu dicatat, tak semua investasi properti ini dilakukan dengan tunai. Kadang, Hadi juga memanfaatkan beberapa tawaran kredit pemilikan rumah (KPR). "Kalau ada tawaran KPR yang menarik, saya lebih memilih kredit," kata dia.

Berdasarkan nilainya, investasi properti memiliki porsi lebih dari 50% dari total portofolio aset Hadi saat ini. Ia menyiapkan investasi properti  untuk jangka waktu hingga lima tahun ke depan.

Semangat anak muda

Selain mengoleksi produk investasi pasar modal dan properti, Hadi juga berinvestasi di beberapa perusahaan teknologi yang baru berkembang alias bisnis startup. Selama ini, Hadi mengaku memang mencintai bidang teknologi dan sudah berpengalaman dalam mengelola bisnis e-commerce.

Ia berani membenamkan dana di bisnis startup, karena yakin prospek bisnis ini masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. Menurutnya, hasil investasi ini baru akan bisa dirasakan di jangka panjang, dalam lima hingga tujuh tahun ke depan. Namun khusus untuk investasi startup, Hadi mengelola sendiri. "Saya lebih memilih investasi di perusahaan startup kecil, tapi mempunyai kelebihan tertentu," kata Hadi.

Dia mencontohkan, ada melihat peluang di toko furnitur online. Ia bahkan berinvestasi di perusahaan pembangkit listrik tenaga surya. Dari awal, Hadi memang berikhtiar ingin masuk ke bisnis yang belum matang (mature).

Bisnis ini memberi peluang cuan yang lebih besar. "Market terus bertumbuh. Kalau saya investasi di sesuatu yang sudah mature, itu bukan mainannya anak muda. Karena masih muda, maka saya berani mengambil risiko," ujar Hadi.

Bagi Hadi, investasi menjadi keharusan sebagai sarana melindungi nilai uang. Bagi investor pemula, ia menyarankan agar tak mudah terpengaruh lingkungan dalam memilih berbagai instrumen investasi. Edukasi terhadap produk-produk investasi tetap diperlukan. "Satu hal lagi, investasi tidak boleh serakah," tandasnya.


Reporter Narita Indrastiti
Editor Dupla KS

INVESTASI PARA EKSEKUTIF

Feedback   ↑ x
Close [X]