: WIB    --   
indikator  I  

Gemar portofolio yang minim risiko

Gemar portofolio yang minim risiko

JAKARTA. Investasi harus bertahap sesuai perkembangan penghasilan dan pengetahuan yang dimiliki. Prinsip ini dipegang teguh oleh Direktur Utama
PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim.

Ketika baru memulai karier profesional di tahun 1980-an, pria lulusan Ilmu Matematika Universitas Indonesia ini mengaku tidak langsung tergiur memutar duitnya di instrumen berkarakter high risk-high return seperti saham.

Hendrisman memilih jalan konservatif, yakni berinvestasi di instrumen mainstream seperti deposito. Alasannya, selain penghasilannya lebih banyak tersedot untuk memenuhi kebutuhan hidup, Hendrisman juga belum siap berinvestasi
di instrumen yang berisiko tinggi.

"Saya ini orangnya sangat konservatif, sehingga ketika memulai investasi dulu lebih banyak mengalokasikan di deposito," jelas Hendrisman. Dana yang diputar di deposito biasanya untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah, seperti pendidikan anak.
Kendati begitu, Hendrisman tidak menutup diri untuk mempelajari instrumen investasi lain. Baginya, pemilihan instrumen investasi yang tepat harus disesuaikan dengan kenaikan biaya hidup beserta keluarga.

Setelah deposito, ia mulai menyisihkan dana untuk diputar di instrumen berbasis proteksi investasi, yaitu unitlink. Pengetahuan Hendrisman terhadap instrumen ini tentu sudah mumpuni. Soalnya, dia sudah berkarier di industri asuransi sejak tahun 1984 silam.

"Industri asuransi berkembang pesat hingga kini. Investasi di unitlink juga kian menjanjikan," ujar Hendrisman.

Mengandalkan insting

Seiring bertambahnya penghasilan, Hendrisman mulai menjajal investasi dengan risiko yang lebih tinggi, yakni saham. Ia mulai serius berinvestasi di saham sejak 10 tahun lalu.

Dalam melakukan pemilihan saham yang akan dibeli, pria kelahiran Palembang pada 18 Oktober 1955 ini lebih percaya pada insting. Hendrisman biasanya tetap akan meminta pendapat dari kolega-koleganya mengenai saham yang menarik untuk diburu. Namun, rekomendasi dari sejawatnya itu tidak ia telan secara mentah-mentah. "Keputusan akhir tetap mengandalkan insting saya sendiri. Kalau tidak sreg, saya lebih mempercayai insting sendiri," jelas Hendrisman.

Dalam mengatur portofolio, Hendrisman mengarahkan investasi saham untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Jadi dia tidak terlalu pusing melakukan transaksi jangka pendek alias trading saham. Hendrisman lebih suka menelaah performa portofolionya secara berkala, misalnya setahun sekali.

Baru setelah itu dia akan memutuskan apakah mulai profit taking atau tetap hold. Hendrisman menilai, strategi seperti ini lebih baik dibandingkan trading jangka pendek, karena lebih tahan dari fluktuasi harga.

Dengan strategi ini, Hendrisman mengaku belum pernah mengalami rugi besar di saham. "Seingat saya, belum pernah mengalami kerugian yang menyakitkan hati," ujar dia.

Hendrisman menyarankan, masyarakat yang baru memulai karier agar lebih banyak berinvestasi di instrumen minim risiko. Soalnya, pada masa awal meniti karier, dana benar-benar idle dan
tersedia untuk investasi masih minim.

Di sisi lain, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup jauh lebih besar. "Kalau terlalu banyak di saham, risikonya terlalu tinggi sehingga berbahaya buat dana kebutuhan hidup kita," terang Hendrisman.

Menurut dia, calon investor sebaiknya mengalokasikan sebanyak 65% dari total dana investasi mereka di instrumen yang minim akan terpaan risiko. Sedangkan sisanya, silakan kalau ditempatkan pada instrumen berisiko tinggi, tapi memiliki prospek return yang tinggi dan tak jauh berbeda seperti saham.


Reporter Veri Nurhansyah Tragistina
Editor Sofyan Nur Hidayat

EKSEKUTIF

Feedback   ↑ x