: WIB    —   
indikator  I  

Chrisna Deva: Setia berinvestasi di tanah

JAKARTA. Kenyamanan dalam berinvestasi menjadi faktor penting bagi Chrisna Deva, Vice President PT Armindo Prima. Itu tercermin dari gaya dia berinvestasi. Pria kelahiran Yogyakarta ini, sejak muda sudah jatuh hati membenamkan dana dengan membeli tanah.

Memang tampak cukup konvensional, apalagi saat ini berbagai produk investasi dengan berbagai skema berkembang cukup pesat. Namun, Chrisna tak mau ambil pusing. "Saya menilai investasi di tanah itu lebih aman dan tingkat apresiasinya cepat," ujar dia. 

Ia membandingkan dengan berinvestasi di saham. Ia melihat, investasi di saham memiliki risiko tinggi, meski tak dipungkiri potensi return-nya pun kadang menggiurkan. 

Toh, Chrisna sudah terlanjur sreg berinvestasi di tanah. Ia mengaku memulai investasi tanah secara tak sengaja. Pada 1989 lalu, Chrisna ditawari sebidang tanah seluas 100 meter persegi (m²) seharga Rp 3 juta oleh seorang teman. Saat itu, usia Chrisna masih belia yakni 23 tahun.

Ia pun memutuskan membeli tanah tersebut dengan tujuan suatu saat akan ia bangun untuk tempat tinggalnya kelak. Tapi, belum sempat dibangun, ia malah menjual tanah tersebut tiga tahun kemudian. Chrisna tergiur menjual karena harga tanah miliknya sudah melonjak menjadi Rp 27 juta.

Tanah yang ia miliki berada di daerah Grobogan, Bali. "Saya kaget, kok mahal. Akhirnya saya jual lalu uangnya saya belikan tanah lagi," kata Chrisna.

Menjajal saham

Seiring berjalannya waktu, Chrisna terus berinvestasi tanah. Hingga kini, dia sudah memiliki tanah dengan luas total hingga puluhan hektare (ha). Tanah tersebut tersebar di berbagai daerah seperti Bali, Yogyakarta, dan Kalimantan Timur. Tanah di daerah-daerah tersebut, menurut Chrisna, memiliki nilai investasi yang sangat bagus.

Ia mencontohkan, enam tahun lalu, dia pernah membeli tanah di Kalimantan Timur seharga Rp 1.000 per m². Kini, harga tanah di daerah tersebut telah naik berlipat ganda menjadi Rp 50.000 per m². Dari situ, Chrisna makin yakin bahwa harga tanah memang tak pernah menyusut. 

Bagi pria berumur 46 tahun ini, investasi berarti mengamankan kehidupan di masa mendatang. Artinya, investasi yang telah dilakukan sejak dini itu nantinya bisa mencukupi kehidupan dia saat tidak produktif lagi bekerja.

Chrisna tak ingin bernasib seperti sejumlah teman-temannya yang sepanjang hidup hanya bekerja berpindah dari satu tempat kerja ke tempat lain. Mereka hanya mengandalkan gaji sebagai pegawai. Chrisna tidak ingin menjadi seperti itu. "Saya berpikir harus memiliki investasi diluar penghasilan tetap yang diperoleh dari bekerja saat ini," ujar pria yang juga menjabat sebagai Direktur PT Kaltim Nitrate itu.

Kendati demikian, Chrisna tidak terlalu tinggi memandang uang. Bagi dia, uang memiliki filosofi hanya sebagai alat untuk membantu pemenuhan kebutuhan hidup di dunia. "Namun, uang bukan segalanya," tandas dia.

Ia memiliki pemahaman bahwa uang bisa membeli rumah, namun tidak bisa membeli tempat tinggal yang nyaman. Uang juga bisa membeli ranjang yang mewah, namun tidak bisa membeli kualitas tidur yang nyenyak. Itu artinya, meski uang bisa membeli materi namun, uang tidak bisa membeli kenyamanan dan kebahagiaan hidup.  

Meski telah bertahun-tahun berinvestasi di tanah, alumni Universitas Udayana ini berencana menjajal produk investasi lain. Dia mulai melirik berinvestasi di pasar saham. Untuk tahap awal Chrisna akan menempatkan investasi di saham-saham yang berkapitalisasi besar alias bluechips. "Namun, berinvestasi di tempat baru harus disertai dengan proses belajar dulu," tutur Chrisna.


Reporter Wahyu Satriani
Editor Rizki Caturini

EKSEKUTIF

Feedback   ↑ x
Close [X]