PASAR OBLIGASI
Bikin hedging obligasi korporasi kurang efektif
Oleh Narita Indrastiti - Jumat, 15 Juni 2012 | 21:48 WIB
JAKARTA. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) akan menerbitkan lindung nilai (hedging) dengan repurchase agrement (repo) untuk pasar obligasi korporasi. Ini dilakukan agar pasar obligasi korporasi semakin likuid.
Namun menurut, analis Obligasi NC Securities I Made Adi Saputra mengatakan, sebenarnya likuiditas di pasar obligasi korporasi sudah cukup tinggi, namun belakangan ini terjadi penurunan volume transaksi obligasi. Faktor eksternal membuat investor cenderung mengurangi aktivitas di pasar obligasi. Jumlah penerbitan obligasi pemerintah sebenarnya sudah mendorong likuiditas di pasar sekunder. "Menurut saya mekanisme repo yang dilakukan BI sebenarnya sudah cukup," kata dia.
Ekonom BCA David Sumual menjelaskan, dengan meningkatkan aktivitas repo, pemerintah bisa mendorong likuiditas di pasar obligasi. Selama ini hanya obligasi pemerintah yang bisa repo.
Pemerintah sebagai regulator diharapkan juga bisa membuat obligasi korporasi lebih likuid dengan membuat aturan repo untuk obligasi korporasi. "Jadi mekanisme hedging ini dimungkinkan," jelas dia.
Menurut Pengamat Pasar Modal Rudiyanto, transaksi repo tetap memiliki risiko gagal bayar dan jaminan pembayaran dari pembeli. Dia menilai hedging berbentuk repo memang dapat menambah likuiditas namun bisa pula menambah risiko. "Siapa yang menjamin harga repo bisa dilaksanakan?" kata dia.
Menurut para analis, salah satu cara untuk meningkatkan likuiditas obligasi adalah dengan membuat bursa obligasi yang mirip dengan bursa saham. Hal itu membuat investor bisa membeli obligasi korporasi sesuai dengan harga pasar. Transparansi harga itu bisa meningkatkan minat investor untuk menambah portofolio di obligasi. "Karena ada kepastian harga investor akan lebih nyaman," kata Rudiyanto.
Made juga berpendapat, transparansi harga obligasi korporasi jauh lebih efektif. Sebab sudah seharusnya harga obligasi bisa diakses tiap investor.
Berbeda dengan SBN, likuiditas obligasi korporasi memang sulit didorong karena investor membeli untuk menikmati kupon sehingga cenderung memegang hingga jatuh tempo. Namun, dengan bursa obligasi yang bisa membantu investor memantau harga, transaksi obligasi di pasar sekunder bisa lebih meningkat.
- Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
- Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
- Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
- KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.
