kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.853   7,00   0,04%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

BEI tak mempersoalkan rencana rights issue BNII


Selasa, 09 April 2013 / 06:07 WIB
BEI tak mempersoalkan rencana rights issue BNII
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/10/2021). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan (8/10) ditutup menguat 65,37 poin (1,02 persen) di level 6.481,77. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.


Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Avanty Nurdiana

JAKARTA. Otoritas bursa menilai, rencana PT Bank International Indonesia Tbk (BNII) menerbitkan saham melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) bisa dilakukan. Tapi, Bursa Efek Indonesia (BEI) berharap, rights issue BNII tersebut bisa terserap publik sehingga bisa meningkatkan likuiditas pasar sekunder.

Rencana rights issue ini digelar sebelum BNII menunaikan kewajiban melepas saham ke publik (refloat) pada 27 Juni 2013. Penerbitan saham baru tersebut rencananya dilakukan bulan Mei 2013.

Menurut Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, rights issue bisa saja dilakukan untuk menambah jumlah saham beredar. "Ditambah dulu baru refloat," kata dia, Senin (8/4).

Sebelumnya, BNII menunda rencana refloat lantaran harga saham yang terus menurun. "BNII minta perpanjangan beberapa kali," kata Hoesen.
Berdasarkan prospektus ringkas BNII, Bapapem-LK sejak 2010 lalu telah memperpanjangan izin refloat BNII sebanyak tiga kali. Rencananya, BNII akan refloat 9,73 miliar saham atau setara dengan 17,29% dari total saham yang dikeluarkan BNII.

Selain itu, BNII juga menerbitkan saham baru alias rights issue sebanyak 4,69 miliar atau 7,69% dari total saham. Saham tersebut merupakan Seri D dengan nilai nominal Rp 22,5 per saham. BNII rencananya akan melepas saham itu di harga Rp 320 per saham. Artinya, BNII bakal meraup dana maksimal senilai Rp 1,5 triliun.

Menurut Hoesen, rights issue BNII baru diproses dan belum mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Ya kita lihat saja ini kan masih rencana, bisa saja tidak disetujui OJK," kata dia.

Robinson Simbolon, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru menilai, rights issue BNII bisa menjadi salah satu mekanisme refloat. "Kewajiban refloat justru bisa dilakukan bersamaan dengan aksi korporasi termasuk rights issue," jelas dia, kepada KONTAN, pekan lalu.

Manajemen BNII akan menggunakan dana hasil rights issue untuk ekspansi kredit. Dengan begitu, pendapatan dan laba bersih BNII bisa meningkat
Saat ini, mayoritas saham BNII dikuasai Sorak Financial Holdings Pte, Ltd (54,33%) dan Maybank Offshore Corporate Services Sdn Bhd (42,96%).

Sekedar mengingatkan, kewajiban refloat harus dilakukan semenjak Maybank membeli saham BNII. Maybank membeli saham BNII pada Maret 2008 di harga Rp 433 per saham. Maybank kemudian melakukan tender offer diharga Rp 510 per saham.

Tapi, kewajiban refloat itu tertunda karena harga BNII terus melemah. Belakangan, harga BNII mulai membaik. Senin (08/04), harga BNII naik 1,19% ke Rp 425 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×