: WIB    —   
indikator  I  

Asing akhirnya cabut dari SUN

Asing akhirnya cabut dari SUN

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah sempat bertahan di pasar obligasi, dana asing akhirnya keluar dari surat utang negara (SUN). Depresiasi rupiah hingga Rp 13.500 per dollar Amerika Serikat (AS) ditengarai menjadi faktor penyebab utama.

Mengutip data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN) Senin (9/10) cuma Rp 808,34 triliun. Ini setara 39,22% dari total SBN yang dapat diperdagangkan.

Angka tersebut telah berkurang Rp 17,93 triliun dibanding posisi pada 27 September lalu yang mencapai Rp 826,27 triliun, atau level tertinggi setahun ini. Namun secara year to date, total dana asing di SBN naik 22,44%. 

Analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Nicodimus Anggi Kristiantoro menuturkan, investor asing kompak melakukan net sell di awal Oktober ini, baik dari pasar obligasi maupun saham. "Keluarnya asing dari pasar Indonesia terkait posisi rupiah yang melemah ke Rp 13.400–Rp 13.500 per dollar AS," ungkap Nico, Selasa (10/10).

Kemarin, kurs spot rupiah sebesar Rp 13.512 per dollar AS. Indeks dollar AS juga sudah mencapai 93,38, setelah sempat terperosok ke level terendah sejak 2015 di 91,35.

Investor asing juga merespons sentimen global, khususnya dari Amerika Serikat (AS). Sejumlah data ekonomi AS cukup positif. Tingkat pengangguran tercatat turun, sementara upah rata-rata pekerja naik. Ini mendukung rencana kenaikan suku bunga The Fed akhir tahun ini.

Selain itu, The Fed mulai melepas surat berharga pemerintah bulan ini. Investor asing juga menanggapi positif rencana reformasi pajak Presiden AS Donald Trump. Semakin banyaknya dana asing yang keluar otomatis berdampak pada penurunan harga surat utang negara (SUN).

Pulang kampung

Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar juga melihat keluarnya dana asing terjadi karena koreksi nilai tukar rupiah dan berbagai sentimen dari AS. "Investor yang aktif di obligasi akan mengurangi posisi di emerging market termasuk di Indonesia," jelas Anil.

Menurut dia, investasi di pasar negara berkembang dalam jangka pendek memang kurang menarik akibat wacana kebijakan moneter dan fiskal AS. Untuk itu, Anil bilang, investor asing tengah mengambil ancang-ancang menyuntikan dana mereka kembali di pasar AS. Pasalnya, bila suku bunga naik, valuasi dollar bakal terkerek. "Ketika AS menaikkan suku bunga dan harga obligasi turun, maka investor akan keluar dari negara berkembang dengan membeli dollar dan masuk ke pasar AS," jelas Anil.

Seperti halnya di Indonesia, saat suku bunga Bank Indonesia (BI) turun, harga surat utang mengalami kenaikan. Sedangkan, AS akan menaikkan suku bunga sehingga harga obligasi pemerintah AS akan turun. 

Meski begitu, analis meyakini perginya dana asing dari pasar modal Indonesia hanya temporer. "Keluarnya dana asing bukan karena Indonesia sedang jelek, tapi investor asing sedang mengantisipasi perubahan," papar Anil.

Menurut Nico, untuk mengembalikan minat asing pada pasar SBN, pemerintah harus memutar otak mencari cara memperbaiki ekonomi dari sisi kebijakan. Pasalnya secara fundamental, ekonomi Indonesia sudah stabil. Tingkat inflasi juga terkendali. Plus, peringkat S&P dan Moody's di level investment grade.

Penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) menjadi 4,25% juga berdampak bagus. Menurut Nico, hal tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah yang tinggi bahwa tidak akan terjadi gejolak ekonomi yang masif. "Harus ada upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih dibandingkan AS yang lebih agresif," jelas Nico.


Reporter Tane Hadiyantono
Editor Wahyu Rahmawati

OBLIGASI

Feedback   ↑ x
Close [X]