: WIB    —   
indikator  I  

Arus kas seret, Saham WSKT tergerus 26%

Arus kas seret, Saham WSKT tergerus 26%

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keadaan arus kas emiten konstruksi pelat merah yang minus membuat para pelaku pasar pesimistis terhadap saham-saham tersebut. Akibatnya, tak hanya kondisi kasnya saja yang memerah, sahamnya pun ikut berwarna merah.

Di kuartal ketiga lalu, para emiten konstruksi BUMN masih mencatatkan arus kas operasional yang minus. Hal ini juga terjadi pada PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Hingga akhir September 2017 lalu, perusahaan konstruksi ini mencatat kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi sebesar minus Rp 5,08 triliun.

Berkat minusnya arus kas operasional tersebut, para pelaku pasar pun meninggalkan saham perusahaan konstruksi ini. Akibatnya, sejak awal tahun saham WSKT telah turun 26,38% year-to-date (ytd).

Meski jumlah arus kas operasional di kuartal III-2017 lebih rendah dibanding September 2016 sebesar Rp 8,99 triliun, WSKT masih tetap belum bisa mengubah kondisi kas operasinya menjadi positif. Hal tersebut disebabkan oleh sistem pembayaran proyek konstruksi.

"Proyek kami banyak yang menggunakan sistem pembayaran turnkey. Inilah yang mengakibatkan kondisi kas operasi kami minus saat ini," ujar Tunggul Rajagukguk, Direktur Keuangan WSKT kepada Kontan.co.id, Rabu (6/12).

Melalui sistem pembayaran turnkey ini, WKST selaku pihak yang mengerjakan proyek tidak akan menerima pembayaran hingga proyek tersebut selesai. Mereka harus mencari pendanaan sendiri dengan menggunakan arus kas operasional yang bisa datang dari pinjaman atau pembayaran dari proyek lain.

Meskipun di laporan keuangan arus kas operasional mereka minus, Tunggul meyakinkan keadaan tersebut telah tertutupi oleh pembiayaan lain.

"Minusnya kas operasional kami sudah tertutupi dari pembiayaan perbankan dan obligasi yang sudah kami terima sebelumnya," terang Tunggul.

Adapun ia yakin di tahun depan WSKT mulai menerima pembayaran dari proyek-proyek yang mereka kerjakan. Pasalnya, ada beberapa proyek yang memiliki tanggal jatuh tempo di tahun 2018 mendatang.

Sebagai informasi, WSKT akan mendapatkan pembayaran sejumlah proyek turnkey senilai Rp 12 triliun hingga Rp 15,7 triliun untuk periode 2018 hingga 2019 mendatang. Pembayaran ini datang dari sejumlah kontrak proyek infrastruktur, diantaranya proyek Jalan Tol Batang-Semarang senilai Rp 6,42 triliun dan proyek Tol Salatiga-Boyolali yang mencapai Rp 2,7 triliun. WSKT juga mengerjakan proyek light rail transit (LRT) Palembang senilai Rp 10,9 triliun.

Hingga penutupan perdagangan Rabu (6/12), saham WSKT telah turun 4,10% ke level Rp 1.870 per saham.

 


Reporter Riska Rahman
Editor Sanny Cicilia

EMITEN

Feedback   ↑ x